istigamah dalam optimisme (husn azhzhan)
Daiam
kata istiqamah tersirat makna upaya terus-menerus. Terkadang seseorang
dalam rangkaian dan tahap-tahap upayanya untuk meraib kemajuan terselip
rasa putus asa apakah ja dapat tiba di pantai kemajuan itu? Surah Fushilat ayat 30 dengan terang menjelaskan bahwa orang yang berlaku istqamah tidak pemah terselip rasa
pesimis. Sebaliknya ja melawan keadaan itu dengan optimisme. Optimisme
bagi seorang Muslim adalah berfikir positif bahwa Allah senantiasa
menyertainya dalam kondisi apapun dan selalu membimbingnya dalam
menapaki perjalanan panjang menuju kemuliaan dan kemajuan.
Karena
itu salah satu ekspresi dari sikap optimis adalah absennya
ketergesa-gesaan untuk ingin segera merasakan kesuksesan. Dia menyadari
benar bahwa ketergesaan untuk memetik kesuksesan adalah perangkap dan
jebakan yang dipasang syaithan. Karena itu tatkala dalam satu tahapan
upayanya itu dirasakannya suiit dan mendaki ja meyakini bahwa setelah
puncak pendakian pasti diikuti jalan menurun, “karena sesungguhnya setiap kesulitan disertai kemudahan dan pastilah setiap kesulitan disertai kemudahan” (Al- Insyirah [94]:5-6).
Bahkan
manakala dalam sekian tahapan dihadang ujian berupa kegagalan dia tidak
akan melihatnya sebagai "malam pekat terakhir yang tidak akan disusuli
matahari pagi menyingsing".
Istigamah dalam "melayani" ('amal shalih)
Iman
yang dimiliki oleh seorang yang bermartabat istiqamah adalah iman yang
dicirikan dengan suka berbagi dan melayani orang lain. Itulah keimanan
yang diikuti dengan amal shalih, keimanan yang dicirikan senang melihat
kebahagiaan yang dirasakannya juga dirasakan saudara-saudaranya. la
tidak hendak bersuka riang sendirian betapa pun sederhananya kebahagiaan
yang dicicipinya. Dengan budi pekertinya inilah Allah selalu
mengiriminya fasilitas bantuan yang diperlukannya. la sadar betul bahwa
"Allah akan memberi bantuan kepada seorang hamba manakala ia memberi
bantuan kepada saudaranya".
Tentu
saja ia pun berterimakasih (baca: syukur) kepada Allah yang selalu
membantunya. Tanda terimakasihnya ia tunjukkan dengan memelihara
kesukaannya berbagi dan melayani orang lain. Bahkan la berikhtiar terus
untuk memperluas pelayanannya itu kepada sebanyak orang.
Karena
ia suka bersilaturahmi Allah pun bersilturahmi kepadanya dengan
mengirim malaikat pemberi inspirasi (tatanazzala 'alayhim
al-malaaikah..) sehingga terbuka pengetahuan baru untuk menambah
kuantitas dan kualitas kebahagiaannya. Orang-orang yang dilayaninya pun
bertambah banyaknya.
Istigamah dalam mengevaluasi diri (muhasabah)
Manusia
bukan malaikat dalam dirinya ada dua potensi kebaikan dan kesalahan
sekaligus. Terkadang jebakan-jebakan baik yang tanpa disadarinya
diciptakannya sendiri mengganggunya untuk merubah visi dan misinya
tentang kemuliaan dan kemajuan. Boleh jadi ia mencoba untuk sementara
waktu berpindah jalur ke jalan yang tampak lebih cepat dan sedikit anak
duri. Atau tatkala ia berkompetisi bersama saudara-saudaranya ia
melakukan cara yang "menyimpang" dari ketentuan dan aturan main Allah
dan Rasul-Nya. Karena deposit kebajikan yang ditebarkan manusia
istigamah mengantarkannya tercatat di sisi Allah sebagai seorang mushin
(Hud [11j:12-15) sebab itulah juga yang menjadikannya segera tersadar
mengevaluasi dirinya untuk segera menghapus kekhilafannya itu dengan
berbagai kebajikan baik itu dengan ibadah ritual maupun ibadah social
(Ar-Ra'd [13]: 22).
Pendek
kata kekeliruan yang dilakukan manusia istiqamah tidak menjadikannya
terus surut dan bergelimang dosa. Manusia istigamah menjadikan
kekeliruan menjadi vitamin pahit yang berbuah keindahan.Karena
kekeliruan yang sempat dilakukannya malah menyadarkannya untuk membuka
berbagai upaya perbaikan menuju perbaikan dan kebaikan yang menghasilkan
kemajuan.
