Senin, 25 Agustus 2014

Sebelah Tangan

UNTUKKU YANG SEBELAH TANGAN
Oleh Rio Septyan

Tanpa mengenal lelah selalu mengejarnya
tanpa mengenal takut selalu berjuang untuknya
tiap malam tiap waktu selalu teringat wajahnya
tiap hari tiap saat semakin ingat dirinya
kadang kala aku ingin mengungkapnya
kadang kala aku malu mendekatinya

Terkenang dia dalam benakku ini
terucap dia dalam lisanku ini
terngiang ditelingaku saat ia bicara tanpa henti
walau kadang aku tak peduli siapa yang aku kagumi
tapi entah mengapa aku merasakan iya mampu menyenangkan hati

Bisikan selalu datang dan berdengung di telingaku
bisikan itu membuat aku semakin bersemangat untuk mendapatkanmu
tapi jiwa lain bertolak belakang dengan rasa itu
menyuruhku untuk menahan hasrat dihatiku
rasa itu sangat membingungkanku
sehingga aku ragu untuk membuka isi hatiku

Tapi mengapa aku selalu terbayang dengan bayangannya
bayangan yang belum tentu bisa menyatukankku
memang aku saat ini mengagumi dan mencintainya
namun apakah dia begitu pula kepadaku
berat hatiku jika harus ku utarakan padanya
sulit bagiku untuk melupakan dirinya yang melintas dibenakku

Tuhan, haruskah aku menjadi kekasihnya?
sedangkan dia belum tentu menyukaiku
jangankan menyukai memperhatikankupun aku tak tahu
Tuhan, Apakah aku harus berjuang?
ataukah aku harus diam dan membisu saat dihadapannya
Tuhan, Bantulah aku saat aku dihadapannya
sebab aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Tuhan, aku tak menyangka jika aku terlambat memilikinya
sekarang dia sudah bahagia saat bersama yang lainnya
Tuhan, tabahkanlah hatiku saat aku melihat dia bersandingan dengan yang lain
Sekarang aku menyadari Cintaku ini Hanyalah Sebelah mata
dan cintaku pun bertepuk sebelah tangan

Rasa sesal dan sakit hati menjadi temanku saat ini
mau bagaimana lagi, inilah yang aku alami
cinta itu memang menyakitkan
jika kita tak bisa mendapatkan apa yang kita harapkan
mungkin inilah yang pantas untuk diriku ini
Mencintai tapi tak pernah bisa dicintai.


Mahligai cinta

MAHLIGAI CINTA

Oleh Ronie Punya Selera

Tertegun aku memandangnya
Tapi aku tak sanggup tuk mengungkapkanya
Hati yang lirih ini ingin menyapa
Tapi apa daya aku tak kuasa

Kucoba aku tuk heningkan cipta
Tuk cari dan mencari cara...
.... gimana tuk mendapatkanya
Berbagai ilmu aku pelajari ....
.....tuk kusinggahkan hatiku demi mendapatkanya
Tapi apa daya.....
lagi-lagi aku kepentok dengan daya dan upaya

Hemmzz,,, sungguh mendebarkan rasa!!!!
Kali ini aku harus hati-hati dalam bercinta
Kuatur siasat agar asmara terjalin sempurna
Jangan sampai cintaku kandas....
.... dihempas gelombang panah asmara

Ya Tuhan yang maha sempurna
Wujudkan impianku tuk mendapatkanya
Kekasih yang mendampingiku di mahligai jagad raya
Sungguh indah mahameru yang tegak nan singgahsana

Dan semoga usahaku berbuah sempurna
Kutawakkalkan cintaku padaMu ....
....!!!!! mahligai cinta
Bermandikan cahaya surga .....
.....yang indah tiada tara
Berhiaskan air mata ......
..... yang menyatukan jiwa kita

Ohh... Mahligai cinta..
Menyatulah dengan jiwaku yang bijaksana
Membangun mahligai laksana ratu dan raja
Mengukir getir indahnya surga cinta
Menuju gelombang cinta yang selama ini kita bina......!!!!!"!""

Oohhhh indahnya mahligai cinta


Sumber : http://www.lokerpuisi.web.id/2014/08/mahligai-cinta-oleh-ronie-punya-selera.html

Selasa, 19 Agustus 2014

Ilmu Menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib as

Keutamaan Ilmu Menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajha .

Suatu ketika, kaum Khawarij mendengar sabda Nabi Muhammad saw. :
اَنَامَدِيْنَةُالْعِلمُ وَ عَلِيُّ بَابُهَا
“Aku adalah kota ilmu, dan Ali gerbangnya.”
Melihat kenyataan tersebut, mereka tidak mau menerimanya. Lalu berkumpullah para tokoh Khawarij untuk membuktikan hal tersebut.
“Kita tanyakan saja kepada Ali, sepuluh pertanyaan yang sama. Jika dia memberikan alasan yang berbeda, maka benarlah apa yang dikatakan Nabi,” usul seorang tokoh.
Mereka kemudian mendatangi Sayyidina Ali secara bergilir dan melontarkan pertanyaan yang sama : “Lebih utama mana ilmu atau harta?”
Sayyidina Ali pun, selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama: ilmu. Akan tetapi dengan alasan berbeda.
Kepada penanya pertama, ia menjelaskan ilmu warisan para nabi, harta merupakan warisan Qarun, Fir’aun dan lainnya.
“Ilmu menjagamu, sedang harta kamulah yang menjaganya,” terangnya kepada penanya kedua.
“Pemilik ilmu sahabatnya banyak, pemilik harta musuhnya banyak.
“Ilmu akan bertambah jikau kau pergunakan. Harta akan berkurang jika kau gunakan.”:
Kepada orang kelima dijawabnya, ”Pemilik ilmu akan dohormati dan dimuliakan. Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit.
“Harta perlu dijaga dari pencuri, ilmu tidak perlu menjaganya.
“Pemilik harta pada hari Kiamat akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan menadapat syafaat.
“Ketika dibiarkan dalam waktu yang lama harta akan rusak. Sedangkan ilmu tak akan musnah dan lenyap.
“Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati.
“Pemilik harta akan dipanggil Tuan Besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuan. Andaikata kalian hidupkan banyak orang, maka aku akan menjawabnya dengan jawaban berbeda, selagi aku masih hidup,” tegas Sayyidina Ali kepada penanya terakhir.
Dan akhirnya, mereka pun kembali dalam pengakuan Islam.

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab al-Mawaidhu al-Ushfuriyyah karya Syeikh Muhammad bin Abu Bakar)


Sumber : http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,53822-lang,id-c,hikmah-t,Sepuluh+Keutamaan+Ilmu-.phpx

Senin, 18 Agustus 2014

tentang Nabi Kita Adam Alaihi Salam

øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
“Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?”
(Study komparatif antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci Perjanjian Lama (Taurat))
Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat). Mungkin sebagian menganggap hal ini merupakan permasalahan yang telah usang. Namun bagi saya tidak ada salahnya kita kembali menganalisanya masalah tersebut. Benarkah Hawa sebagai penggoda yang menyebabkan Nabi Adam berbuat dosa (dosa di sini ialah melakukan yang sebaiknya ditinggalkan atau istilah lainnya ialah tarkul aula (meninggalkan yang utama untuk kemaslahatan), bukan dosa dalam artian berbuat haram karena di surga sana belum terdapat taklif untuk manusia) dan akhirnya terusir dari surga?
Namun sebelum memasuki pembahasan, terlebih dahulu terdapat satu pertanyaan yang harus kita jawab sebagai prolog untuk memasuki pembahasan pokok, sehingga permasalahan menjadi lebih transparan.
Pertanyaan: “Apakah sejak semula Adam diciptakan untuk tinggal di muka bumi, atau untuk tinggal di surga?”
Jawab: Sejak semula Nabi Adam dan Hawa (manusia) telah diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Dalam ayat di atas ungkapan “Fil Ardhy” yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah “di muka bumi”. Dalam ayat tadi, Allah swt telah mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. Hal itu terjadi terjadi sebelum penciptaan Nabi Adam dan Hawa, yang akhirnya para malaikat protes kepada Allah swt tentang hal itu, namun Allah swt memberikan jawaban kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Perihal ini dapat anda lihat dalam lanjutan ayat di atas.
Namun, sebelum turun ke muka bumi, Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Nabi Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan;
Pertama; Surga pasca Kiamat penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa, mereka tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut.
Kedua; Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara surga Nabi Adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka.
Ketiga; Surga pasca Kiamat adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik. Namun surga Nabi Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (taklif) telah dimasukan ke dalam surga.
Keempat; Surga di akherat kelak bersifat bebas mutlak untuk para penghuninya. Dalam arti, tidak ada larangan sedikitpun, berbeda dengan surga Adam-Hawa dimana mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di surga tersebut.
Setelah menyelesaikan prolog di atas, marilah kita memasuki pembahasan pokok yaitu menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah benar Hawa penyebab turunnya Adam dari surga?” dengan mengadakan study komparatif antara Al-Qur’an dan Perjanjian Lama .
Apabila kita merujuk ke kitab suci Al-Qur’an maka jawabannya ialah negative. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang telah menjelaskan secara terperinci ialah terdapat dalam surat al-A’raf. Dimana dalam surat tersebut telah dijelaskan pula sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Dalam surat tersebut telah dijelaskan pula bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Nabi Adam dan Hawa) atas perlakuannya. Mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?:
“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)
Berdasarkan ayat di atas, sumpah palsu syetan dengan mengatakan kepada Adama dan Hawa bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah, karena Tuhan tidak ingin mereka menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan pun telah bersumpah dengan mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan kembali cermati secara seksama ayat di atas!
Lebih jelas lagi terdapat dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:
“Maka Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?“. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Keterangan; Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa dan dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Nabi Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.
Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah positif, Hawa-lah penyebab terusirkannya Nabi Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Nabi Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan (edisi Arab dan juga edisi Persia) Perjanjian Lama. Namun saya yakin, edisi terjemahan kitab tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tersebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:
“Telah berkata ular kepada wanita (Hawa): “Kenapa telah memerintahkan Tuhan kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas wanita (Hawa) tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati.Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: “Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon itu kepadaku lalu aku memakannya. Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan engkau akan makan tanah selama hidupmu…kemudian Tuhanpun berkata kepada wanita (Hawa): “Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. Dan berkata Tuhan kepada Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu…lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga… ” .
Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas! Dimana syetan telah menggoda dan membisikan kepada Adam secara langsung (yang ditulis tebal). Namun dalam Perjanjian Lama, ular (syetan) pertama menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Nabi Adam untuk memakan buah khuldi yang akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena telah menuruti dan tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Namun dalam al-Qur’an kedua-duanya telah ditegur oleh Allah swt, karena baik Nabi Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan ‘kalian berdua’ (karena dalam ayat tersebut menggunakan ‘dhamir mutsana’, yaitu kata ganti orang yang menunjukkan dua orang) ), bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Nabi Adam:
“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (al-A’raf 19-21)
Kesimpulan:
· Dalam al-Qur’an Hawa bukanlah penyebab Nabi Adam as terusir dari surga, akan tetapi sejak semula Nabi Adam as pun sebagaimana Hawa telah tertipu oleh sumpah palsu syetan.
· Sumpah palsu ialah; pertama, syetan telah bersumpah bahwa tidaklah Allah swt telah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi melainkan karena Dia tidak ingin mereka kekal seperti para malaikat. Kedua, syetan bersumpah bahwa ia melakukan hal ini hanyalah demi kebaikan mereka berdua.
· Karena kedua-duanya telah bersalah maka Allah swt menegur kedua-duanya.
· Namun dalam kitab Perjanjian Lama, pertama syetan (yang dalam kitab tesebut disebut ular) menipu Hawa, kemudian Hawa menggoda Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.
· Oleh karena itu, setelah Tuhan mengetahui pelanggaran atas pelarangannya, pertama Tuhan menegur Adam. Sewaktu Tuhan menegur Nabi Adam karena kesalahannya, Nabi Adam mengatakan bahwa perempuan yang Engkau ciptakan untuk jadi temanku (Hawa) yang telah membujukku untuk memakannya. Jadi, secara tidak langsung Hawa sebagai penyebab ia berbuat salah dan akhirnya terusir dari surga.
· Setelah itu, kemudian Tuhan menegur Hawa, kenapa telah menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?
· Oleh karena itu, secara tidak langsung menurut kitab Perjanjian Lama Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga, sebagaimana yang selalu kita dengar selama ini.
Sumber:
Al-Qur’an
Perjanjian Lama (Taurat) edisi bahasa Arab.
TafsirMizan karya Allamah Thabathabai’
TafsirTasnim, karya Ayatullah jawadi Amuli
TafsirNemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi
Catatan:
· Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia). Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.
· Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘Adim’ yang artinya bagian permukaan tanah.
Bagi yang dapat memahami bahasa Arab dapat langsung merujuk sendiri kepada 2 sumber (al-Quran dan Perjanjian lama edisi Arab) tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali melihat kitab aslinya yang berbahasa Ibrani, namun percuma saja, karena saya sendiri tidak bisa memahami bahasa Ibrani. Saya pun telah berusaha men-search kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Indonesia di internet, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan ini, namun tidak mendapatkannya. Jalan terakhir saya menggunakan rujukan saya ke kitab Perjanjian Lama edisi bahasa Arab dan Persia.
(Argumen Teks Penguat Terakhir) 
Namun begitulah kenyataannya di berbagai ayat-ayat suci al-Quran, pedoman primer orang yang mengaku sebagai muslim. Sepintas, sepertinya saya ini sangat berambisius sekali mengafirmasikan bahwa bukanlah Hawa yang telah membuat Nabi Adam as terusir dari surga, seperti mitos yang kita dengar selama ini. Mitos yang tidak bersumber dari sumber-sumber primer dan sekunder kaum muslimin yang dapat dipertangggungjawabkan melalui jalur ilmiah. Sebagaimana pada artikel-artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang tema ini dengan melihat pandangan al-Qur’an dan kitab Perjanjian Lama dengan membuat perbandingan di antara keduanya. Konklusi dari kajian komparatif antara kedua kitab suci ini ialah bahwa dalam kitab Perjanjian Lama, Hawa (Eva) sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam as dari surga. Sedang kitab suci al-Qur’an dengan tegas telah menafikan hal itu, dan menganggap Setan sebagai penyebab terusirnya mereka.
Ketika saya membuka-buka kembali kitab suci al-Quran, mata saya tertuju pada surat al-A’raf ayat 27 dimana dengan sangat gamblang menjelaskan tentang hal ini. Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Setanlah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga; “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”.
Al-Qur’an dengan sangat jelas mengatakan bahwa Setan-lah yang telah mengeluarkan ibu-bapa manusia yakni Adam as (dan Hawa) dari surga, bukan Hawa, ibu kaum manusia. Dan ketika kita dapati beberapa hadis-hadis –yang tidak ada jaminan kebenaran dan keterjagaannya dari pendustaan- yang sebagai sumber sekunder (pasca al-Quran) yang bertentangan dengan al-Quran yang dijamin keotentikannya dan keterjagaannya dari pendustaan, maka saya kira sepakat semua kelompok muslimin dalam menindaklanjuti hadis-hadis israiliyat semacam itu, membuangnya jauh-jauh dari ensiklopedia hadis Nabi saww.
[Euis Daryati, mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Qur’an]