Minggu, 15 Juni 2014

Istiqamah

  Apa itu istiqamah? Istigamah adalah martabat keimanan paripurna yang dengannya seluruh kebajikan dapat terjadi secara teratur. Orang yang belum meraih martabat istiqamah seluruh upaya yang dilakukannya sia-sia belaka. Al-Wasithi menambahkan, "istigamah adalah budi pekerti yang menyempurnakan seluruh kebajikan yang jika ditemukan dalam diri seseorang maka sempurnalah kebajikannya dan jika hilang maka kebajikannya lenyap". Kalimat terakhir ini jembatan untuk memahamisabda lainnya tentang istigamah  istaqiimuu wa lan tuhshuu" beristiqamahlah anda pasti anda tak dapat menghitung  kebaikan anda"(HR lbnu Majah). Jika kemajuan itu dimaknai sebagai suatu kualitas keadaan seseorang yang terus membaik dan kebaikannya terus meningkat maka penopang utama yang melahirkan dan menjaga kemajuan dalam suatu kesinambungan adalah kualitas istigamah.
istigamah dalam optimisme (husn azhzhan)
Daiam kata istiqamah tersirat makna upaya terus-menerus. Terkadang seseorang dalam rangkaian dan tahap-tahap upayanya untuk meraib kemajuan terselip rasa putus asa apakah ja dapat tiba di pantai  kemajuan itu? Surah Fushilat ayat 30 dengan terang menjelaskan bahwa orang  yang berlaku istqamah tidak pemah terselip  rasa pesimis. Sebaliknya ja melawan keadaan itu dengan optimisme. Optimisme bagi seorang Muslim adalah berfikir positif bahwa Allah senantiasa menyertainya dalam kondisi apapun dan selalu membimbingnya dalam menapaki perjalanan panjang menuju kemuliaan dan kemajuan.
 Karena itu salah satu ekspresi dari sikap optimis adalah absennya ketergesa-gesaan untuk ingin segera merasakan kesuksesan. Dia menyadari benar bahwa ketergesaan untuk memetik kesuksesan adalah perangkap dan jebakan yang dipasang syaithan. Karena itu tatkala dalam satu tahapan upayanya itu dirasakannya suiit dan mendaki ja meyakini bahwa setelah puncak pendakian pasti diikuti jalan menurun, “karena sesungguhnya setiap kesulitan disertai kemudahan dan pastilah setiap kesulitan disertai kemudahan” (Al- Insyirah [94]:5-6).
Bahkan manakala dalam sekian tahapan dihadang ujian berupa kegagalan dia tidak akan melihatnya sebagai "malam pekat terakhir yang tidak akan disusuli matahari pagi menyingsing".

Istigamah dalam "melayani" ('amal shalih)
Iman yang dimiliki oleh seorang yang bermartabat istiqamah adalah iman yang dicirikan dengan suka berbagi dan melayani orang lain. Itulah keimanan yang diikuti dengan amal shalih, keimanan yang dicirikan senang melihat kebahagiaan yang dirasakannya juga dirasakan saudara-saudaranya. la tidak hendak bersuka riang sendirian betapa pun sederhananya kebahagiaan yang dicicipinya. Dengan budi pekertinya inilah Allah selalu mengiriminya fasilitas bantuan yang diperlukannya. la sadar betul bahwa "Allah akan memberi bantuan kepada seorang hamba manakala ia memberi bantuan kepada saudaranya".
Tentu saja ia pun berterimakasih (baca: syukur) kepada Allah yang selalu membantunya. Tanda terimakasihnya ia tunjukkan dengan memelihara kesukaannya berbagi dan melayani orang lain. Bahkan la berikhtiar terus untuk memperluas pelayanannya itu kepada sebanyak orang.
Karena ia suka bersilaturahmi Allah pun bersilturahmi kepadanya dengan mengirim malaikat pemberi inspirasi (tatanazzala 'alayhim al-malaaikah..) sehingga terbuka pengetahuan baru untuk menambah kuantitas dan kualitas kebahagiaannya. Orang-orang yang dilayaninya pun bertambah banyaknya.
Istigamah dalam mengevaluasi diri (muhasabah)
Manusia bukan malaikat dalam dirinya ada dua potensi kebaikan dan kesalahan sekaligus. Terkadang jebakan-jebakan baik yang tanpa disadarinya diciptakannya sendiri mengganggunya untuk merubah visi dan misinya tentang kemuliaan dan kemajuan. Boleh jadi ia mencoba untuk sementara waktu berpindah jalur ke jalan yang tampak lebih cepat dan sedikit anak duri. Atau tatkala ia berkompetisi bersama saudara-saudaranya ia melakukan cara yang "menyimpang" dari ketentuan dan aturan main Allah dan Rasul-Nya. Karena deposit kebajikan yang ditebarkan manusia istigamah mengantarkannya tercatat di sisi Allah sebagai seorang mushin (Hud [11j:12-15) sebab itulah juga yang menjadikannya segera tersadar mengevaluasi dirinya untuk segera menghapus kekhilafannya itu dengan berbagai kebajikan baik itu dengan ibadah ritual maupun ibadah social (Ar-Ra'd [13]: 22).
      Pendek kata kekeliruan yang dilakukan manusia istiqamah tidak menjadikannya terus surut dan bergelimang dosa. Manusia istigamah menjadikan kekeliruan menjadi vitamin pahit yang berbuah keindahan.Karena kekeliruan yang sempat dilakukannya malah menyadarkannya untuk membuka berbagai upaya perbaikan menuju perbaikan dan kebaikan yang menghasilkan kemajuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar