Senin, 18 Agustus 2014

Iblis

Iblis Datang dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita
Di dalam Al Qur’an, akan kita dapati sebuah rekaman dialog antara Allah SWT dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis menyatakan untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut terekam dalam  surat Al A’raf ayat 16-17 berikut ini:
tA$s% !$yJÎ6sù ÏZoK÷ƒuqøîr& ¨byãèø%V{ öNçlm; y7sÛºuŽÅÀ tLìÉ)tFó¡ãKø9$# ÇÊÏÈ   §NèO Oßg¨YuÏ?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ßÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ 
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).’” (QS. Al A’raf : 16-17)
Dari ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa Iblis akan selalu menghalang-halangi kita dari jalan yang lurus. Caranya, dia akan mendatangi kita dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri kita. Lalu apa maksud dari keempat penjuru itu?
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 17 di atas adalah:
 §NèO Oßg¨YuÏ?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ßÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ 
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka”: Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim),
“dan dari belakang mereka”: membuat mereka cinta kepada dunia (Wa Min Kholfihim),
“dari kanan”: urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas (Wa ‘An Aimaanihim)
“dan dari kiri mereka”: dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa ‘An Syama’ilihim). Lalu timbul pertanyaan di benak kita, mengapa iblis tidak mendatangi kita dari atas dan dari bawah kita? Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah tafsir Al Qur’an berikut ini:
Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka” (At-Tafsir Al-Kabir V/215)
Dalam tafsir yang lain juga dikatakan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu katsir III/394-395).
Oleh karena itu iman adalah senjata kita. Berdoalah, mari kita berlindung kepada Allah atas segala godaan syaithan yang terkutuk.


KHASIAT AYAT KURSI

KHASIAT AYAT KURSI
Baca pada saat keluar rumah.
70.000 malaikat akan menjaga Kita dari semua sisi.
Baca saat masuk rumah.
Kemiskinan tidak akan memasuki rumah Kita.
Baca setelah berwudhu.
Derajat Kita akan dinaikkan 70 tingkat.
Baca pada saat tidur.
Malaikat akan menjaga Kita sepanjang malam.
Baca setelah shalat.
Maka jarak antara Kita dan surga hanyalah kematian.

Subhanallah...

Muslimah Permaisuri Surga

Muslimah Permaisuri Surga

Wanita Muslimah adalah butiran permata indah. Ia tersusun dari manik-manik kemuliaan, berkilauan kehormatan. Agama menjadi mahkota keagungannya, akhlak menjadi basis perangainya.
Perangainya lembut nan menawan. Dia bagai murai yang bertengger di dahan kesucian, cantiknya memancar abadi.
Suaranya adalah melodi kehidupan. Bersenandung ria penuh kewibawaan. Kata-katanya mengalir deras dari mata air wahyu. Bibirnya basah dengan tilawah al-Qur’an.

Duhai…
Terdengar dawai iman yang meneduhkan nuranimu.
Imanmu adalah surga menyejukkan bagi hati yang mengering dahaga.

Namun,
Di era global, ke manakah iman sejatimu wahai para muslimah?
Engkau muslimah, tapi sangat hemat terhadap pakaian.
Tubuhmu kau biarkan menyembul menggoda.
Kemolekan auratmu kau gadai begitu saja. Bahkan kau pertontonkan dengan harga murahan, lebih murah daripada paha ayam pasaran.

Kini, kehormatanmu luruh.
Tergelepar menjadi serpihan-serpihan yang hina-dina.
Dengan semua itu, kamu bisa berbangga dengan penuh kepalsuan.
Bibirmu menyungging senyum, tapi hatimu merintih penuh derita.

Tahukah kau wahai muslimah, apa yang menjadikan kau begitu berharga?
Harta berharga yang kau punya adalah “kehormatan”.
Dia adalah permata keabadian.
Permata abadi berbalut kehormatan,
Duri-duri tangkainya tajam bagi mata jalang yang hendak merabanya.
Dan ternyata,
Engkau adalah kreasi sepuhan karya tangan Tuhan yang luar biasa eloknya.
Tuhan menciptakanmu dengan nilai seni yang Mahadahsyat.
Maka muliakanlah dirimu dengan menjaga kehormatanmu!
Muliakanlah dirimu sebagaimana Tuhan memulyakanmu.
 Percayalah, bahwa dirimu adalah permata yang bertengger di atas permata surga.
Ternyata, kamu adalah perhiasan dunia, dan juga permaisuri surga.
Pakailah mahkota kehormatanmu, wahai muslimah!
Maka, kecantikanmu akan abadi.

lelaki pilihan

Bagiku, lelaki mulia…
Ialah yang tidak menghinakan wanita.
Sikapnya santun penuh hormat,
Ialah cermin dari pribadi yang taat.
Lelaki mulia…
Selalu menjaga wanita.
Tak membiarkannya kecewa,
Apalagi terluka..
Oleh janji-janji buta.
Lelaki mulia…
Yang tak akan umbar kata,
Melainkan dengan sikap yang nyata.
Ialah lelaki mulia..
Memuliakan wanita,
Terutama Ibunya…..
Akhlaknya tidak tercela..
Penuh kehati-hatian dalam bicara,
Berpikir seribu kali sebelum mencinta..
Khawatir kan menyakiti wanita.
Lelaki mulia…
Dimanakah kau berada?
Semoga kita kan dipertemukan jua…


kata mutiara

Kekuatan wanita adalah
KESABARAN..
Dan kelemahan wanita adalah
PERASAAN..
Tapi, sesungguhnya kodrat itu yang
membuat wanita tampak lebih
indah dan MEMPESONA..
Wanita indah bukan karena
kecantikan PARAS wajah nya..
Bukan pula yang lemah gemulai
dan keelokan TUBUH nya..
Tapi, keindahan wanita
terletak pada KELEMBUTAN
hatinya..
Insya ALLAH keindahan hati
itu bisa di miliki tiap wanita

Selasa, 29 Juli 2014

Perpisahan dengan Ramadhan

  
Kalau di awal Ramadhan ada tarhib. Di akhir Ramadhan ada taudi’. Walaupun kata taudi’ berarti berpisah untuk tidak (sulit) bertemu lagi. Saat berpisah dengan bulan mulia ini, ada sebuah kaidah, yaitu (من لم يذق مرارة الفراق لم يعرف حلاوة اللقاء) “Orang yang tidak merasakan pahitnya berpisah, pasti belum mengerti manisnya perjumpaan.”
Di atas kaidah ini, dibangunlah cara bagaimana berpisah dengan bulan Ramadhan. Saat berpisah dengan bulan Ramadhan, ada dua macam orang:
Bahagia Berpisah?
Kalau berbahagia saat berpisah, maka dia belum merasakan manisnya Ramadhan. Kalau belum merasakan manisnya Ramadhan, berarti dia belum memperlakukan Ramadhan dengan sebagaimana mestinya.
Orang yang demikian hendaknya banyak beristighfar kepada Allah SWT disertai dengan penyesalan yang sebenar-benarnya. Ini akan jauh lebih baik daripada orang yang mengisi bulan Ramadhan tapi tidak bisa menjaga keutuhan pahalanya.
Ataukah Sedih?
Kalau bersedih saat berpisah, berarti dia telah merasakan manisnya bulan Ramadhan, dan dia tidak mau ditinggalkannya. Orang seperti ini perlu bersyukur kepada Allah SWT. Tapi bukan berarti kewajibannya telah selesai, dia perlu bermuhasabah apakah dia sudah sampai pada tujuan ibadah Ramadhan atau belum?
Di antara tujuan ibadah Ramadhan adalah menjadi bertakwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183].
Cara muhasabah ketakwaan bisa dengan melihat tanda-tanda orang yang bertakwa.  Misalnya banyak beribadah dengan motivasi melindungi diri dari siksa neraka; berusaha menjadi segala sesuatu sebagai pelindung dari siksa neraka; berusaha sempurna dalam melaksanakan kewajiban; lebih berhati-hati dalam memakai membelanjakan hartanya.
Tujuan lain ibadah di bulan Ramadhan adalah agar seluruh dosa kita diampuni.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap surga, maka akan dihapuskan seluruh dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim].
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Orang yang menghidupkan malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap surga, maka akan dihapuskan seluruh dosanya. [HR. Bukhari dan Muslim].
Bagaimana mengetahui bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Ada tanda-tandanya seperti mudah dalam melaksanakan kebaikan dan ketaatan, karena dosa yang membebaninya telah dihilangkan sehingga beban menjadi ringan; selalu terdorong dalam melaksanakan kebaikan, karena di antara pahala sebuah kebaikan adalah dimudahkan berbuat kebaikan yang lain; dicintai orang lain, karena ketika Allah SWT mencintainya, maka para malaikat pun mencintainya, dan kalau malaikat mencintainya, maka orang lain pun ikut mencintainya.
Bagaikan Ilmu Padi
Kalau tujuan-tujuan itu dinilai tercapai, apakah sudah selesai? Orang itu hendaknya menjaga sikapnya seperti inkisar (merasa dirinya belum ada nilainya). Tidak merasa dirinya paling baik, paling shalih dan paling benar.
Seperti sahabat Abdullah bin Umar RA berharap satu sujudnya diterima, padahal beliau adalah ahli ibadah tapi masih khawatir ibadah-ibadahnya ditolak Allah Ta’ala. Jika ada satu sujudnya yang diterima maka akan lebih membuatnya bahagia daripada menerima harta seluruh dunia.
Seperti Umar bin Abdul Aziz  RA yang tidak mau dikubur bersama Rasulullah SAW seperti diusulkan oleh para tabi’in. Padahal beliau disebut-sebut sebagai khalifah rasyidin kelima, walaupun kita mengetahui hanya ada empat orang khalifah rasyidin.
Kita juga belajar dari perintah Allah Ta’ala untuk banyak membaca istigfar di kala Ashar (sebelum subuh). Ini menunjukkan bahwa setelah banyak beribadah, jangan sampai ibadah itu membuat sombong, harus tetap merasa banyak berdosa.
Hati-hati, Pahala Belum Aman
Walaupun banyak mengumpulkan pahala di bulan Ramadhan, namun pahala-pahala itu belum aman. Banyak sekali perbuatan itu yang bisa membuatnya hilang sia-sia. Misalnya, mendahului Allah SWT dalam menghukumi orang lain; riya’; ujub; maksiat dalam khalwat; menzhalimi orang lain; menggunjing orang lain; hasad dan sebagainya.