Senin, 18 Agustus 2014

Tafsir Ar Ra’du 11

Tafsir Ar Ra’du 11
(Muhammad Hafidz, berdasarkan tafsir Jami’u li Ahkam il-Qur’an Imam al Qurthubiy)

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sebuah kaum hingga mereka mengubah apapun yang ada pada diri mereka.” (TQS Ar Ra’du 11)
Sebagian umat Islam menggunakan ayat ini sebagai pembenaran untuk tidak berusaha menegakkan syari’at Allah di atas bumi dengan membangkitkan umat secara bersama. Sebaliknya, mereka mengatakan bahwa seorang muslim harus menyempurnakan diri mereka terlebih dahulu, kemudian barulah seorang muslim memperhatikan kerusakan di tengah masyarakatnya. Karenanya mereka menekankan penyempurnaan individu, sebagaimana Allah SWT berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah kondisi masyarakat hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri setiap individu.
Tanpa bermaksud mengabaikan pentingnya tazkiyyat un-nafs (pembersihan jiwa individu), penting untuk menghapuskan pemahaman yang salah di atas, terutama pemikiran bahwa dengan tazkiyyat un-nafs saja seorang muslim bisa membangkitkan umat secara keseluruhan. Tafsir berikut akan menjelaskan makna sesungguhnya dengan penjelasan kata per kata dengan tujuan membuka makna Dakwah Islam yang seharusnya, yaitu Dakwah yang Jama’iy. Selain itu, tafsir ini akan membuktikan kesalahan penafsiran yang sangat dipengaruhi oleh individualisme Barat.
Bentuk Ayat
Ayat yang menjadi pembahasan berbentuk ikhbariyyah (informatif), karenanya ayat tersebut menginformasikan tentang kapan Allah SWT akan mengubah kondisi sebuah masyarakat. Ayat tersebut tidak memberikan secara detail tata cara untuk kebangkitan dan tidak bisa digunakan untuk mendapatkan pemahaman tentang tata cara tersebut, sebagaimana tidak ada satupun mufasirin yang menggunakan secara demikian.
Imam ul-Qurthubi dalam tafsir beliau al Jaami’u li Ahkam il-Qur’an mengatakan “akhbara Allahu” (yang artinya, “Allah mengabarkan’) yang berarti ayat Ar Ra’du:11 adalah ayat ikhbariyyah karena ayat tersebut menginformasikan kepada kita tentang hukum Allah terkait dengan perubahan.
Bagi Siapa Perubahan Terjadi ?
Kata kerja (fi’il) yang dibahas adalah tentang perubahan (yughoyyiru) dan yang melakukan (faa’il) perubahan adalah Allah SWT. Kemudian, siapa yang menjadi obyek dari kata kerja tersebut (al maf’uul)? Dengan pertanyaan lain, siapakah yang akan diubah oleh Allah? Allah berfirman, “… ma bi qoumin …,” yang artinya, “… apa yang ada pada sebuah kaum ….”
Jadi jelas bahwa perubahan terjadi atas sebuah kaum. Apa arti kata kaum dan bagaimanakah kondisi perubahan tersebut? Kata maa adalah ‘aam(maa al-‘umuum), jadi apapun yang ada pada sebuah kaum. Lebih jauh, kata kaum berbentuk mutlaq (tidak dibatasi) dan karenanya bisa juga diterapkan atas kaum kafir. Sehingga, makna yang lebih tepat untuk Innallaha laa yughoyyiru maa bi qoumin adalah bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah apapun yang ada pada sebuah kaum.
Perhatikan bahwa kata yang digunakan adalah kata Qoum, yang berarti pokok pembahasannya adalah perubahan yang kolektif bukan perubahan yang individual. Qoum, dalam bahasa Arab, berarti bangsa atau syu’ub (masyarakat) dan bisa juga berarti umat. Semua makna tersebut tidaklah menunjukkan pengertian individual atau kumpulan individu. Fard atau syakhs bermakna individual atau seseorang dan afraad atau syakhshiyyun adalah jamak yang berarti kumpulan individu atau orang banyak. Kata-kata ini bisa digunakan untuk menunjukkan aktivitas yang mengikuti perubahan individual. Namun, Allah tidak menggunakan kata-kata tersebut dalam ayat ini.
Bahkan, Allah SWT menggunakan Qoum yang bermakna bangsa atau umat. Bangsa memiliki konotasi yag spesifik. Bangsa berarti tidak sekedar kumpulan manusia, lebih daripada sekedar afraad. Perbedaannya terletak pada kebersamaannya, yaitu Qoum yang diikat oleh sebuah identitas yang sama, yaitu adanya sebuah pendorong bagi persatuannya. Karena itulah, sebuahqoum bisa digunakan untuk menjelaskan kata bangsa yang dipersatukan oleh ras, sehingga muncullah kata qoumiyyah (nasionalisme). Akan tetapi, kataqoum tidak dibatasi untuk menjelaskan makna kelompok etnik tertentu, seperti muslimin. Juga, kata qoum tidak dibatasi pengertiannya pada lingkungan ideologis tertentu. Karena itu, kata qoum dalam ayat ini bisa digunakan untuk segala bangsa, tidak terikat dengan ras atau ideologinya, sehingga bentuknyamutlaq (tidak dibatasi) dan bisa diterapkan bagi semua kelompok bersama manusia.
Apa yang harus dilakukan oleh sebuah Qoum ?
Allah menambahkan, “…hattaa yughayyiruu…” yang berati “…hingga mereka mengubah …”. Kata-kata ini menunjukkan shighaat as syurth (bentuk pensyaratan), yaitu digunakannya lafadz “hatta” (hingga). Sehingga makna yang dihasilkan oleh ayat adalah “Allah tidak mengubah … hingga mereka mengubah …”. Penggunaan syarat di sini menunjukkan bisa dimbilnya mafhum mukholafah (pengertian sebaliknya), yaitu jika sebuah qoum tidak mengubah diri mereka secara bersama-sama, maka Allah tidak akan mengubah keadaan qoum tersebut. Jadi, syarat perubahan keadaan sebuah qoum adalah berawal dari tindakan dari qoum tersebut dan itu berarti proaktif tidak secara pasif menunggu datangnya pertolongan Allah. Ingat, kata yang digunakan adalahyughoyyiruu dalam bentuk kerja aktif (bukan yughoyyaru, kata kerja pasif) dan ini berarti bahwa qoum harus bertindak aktif dan tanpa tindakan aktif maka perubahan keadaan tidak akan terjadi.
Apa yang harus diubah ?
“…Maa bi anfusihim”
“…Apapun yang ada pada diri mereka …”
Lafadz maa yang digunakan adalah maa al ‘umum, yang berarti segala aspek kehidupan harus diubah. Isim nafs juga digunakan dalam bentuk jamak anfus. Nafs mencakup segala hal yang ada pada diri manusia tidak sekedar masalah ibadah ritual semata atau aspek-aspek tertentu saja. Karena itu, Allah telah mengabarkan bahwa Dia SWT tidak akan mengubah keadaan sebuah qoum hingga mereka secara bersama-sama mengubah apa pun yang ada pada diri mereka dalam segala aspeknya. Sekali lagi, mereka adalah sebuah qoum bukan sekedar kumpulan individu.
Apa bentuk perubahan tersebut ?
Kata qoum dalam bentuk mutlaq (tak-dibatasi) yang berarti kabar dari Allah bahwa Dia SWT tidak menghendaki perubahan hanya terjadi pada diri kaum muslimin saja, tetapi untuk umat manapun termasuk kaum kuffar. Ini adalah sunatullah. Ini berarti kaum muslimin tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan sholat, puasa, zakat dan haji dalam merintis kebangkitan kaum muslimin. Sunatullah telah menentukan bahwa perubahan qoum juga terjadi pada diri kaum kafirin, yang jelas-jelas mereka tidak pernah sholat, puasa, zakat dan haji. Negeri-negeri kafir telah mengalami kemajuan luar biasa dalam ekonomi, teknologi dan politik. Jelaslah, bentuk perubahan yang dituntut oleh ayat tersebut pun juga tidak dibatasi pada sekedar aspek ibadah ritual, akhlak dan pakaian atau bahkan sekedar berpredikat muslim.
Perubahan yang dituntut oleh ayat adalah perubahan yang kaffah, sebuah perubahan yang sempurna dan menyeluruh. Perubahan tersebut haruslah yang ideologis, yaitu perubahan yang berawal dari pandangan hidup yang dari pandangan hidup itu kemudian terpancarlah semua aturan kehidupan. Perhatikanlah kebangkitan Islam yang pertama dibawah pimpinan Rasulullah dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah pertama di Madinah al Munawaroh. Namun, ketika kaum muslimin lemah dalam berpegang kepada ideologi Islamnya, maka runtuhlah Daulah Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah. Perhatikan pula tegaknya negara komunis Uni Sovyet dalam masa 50 tahun setelah ditulisnya ideologi komunisme (buku Das Capital) oleh Karl Marx. Namun, Uni Sovyet runtuh ketika rakyat tidak lagi mempercayai ideologi komunisme. Juga perhatikan kebangkitan Eropa, dengan pandangan hidup sekulerisme mereka di masa sebelum Revolusi Industri terjadi. Mereka temukan sebab kemunduran mereka, yaitu gereja mengekang kebebasan mereka sehingga muncullah pemikiran agama hanya sebatas kehidupan ritual dan kehidupan keseharian berdasarkan aturan manusia. Begitu pula Amerika Serikat ketika berusaha merdeka dari kungkungan Inggris, bahkan mulai Perang Dunia II Amerika Serikat menguasai dunia.
Jelaslah, ketika sebuah kaum bersatu dan hidup berlandaskan sebuah pandangan hidup yang satu dan produktif, tampak dalam kehidupan kaum tersebut aturan-aturan hidup yang muncul dari pandangan hidupnya, maka niscaya Allah akan mengubah kaum tersebut. Artinya, mereka total dalam memeluk ideologi yang menjadi pandangan hidup beserta aturan-aturan yang terpancar dari pandangan hidup tersebut.
Kaum muslimin pasti akan bangkit dan memimpin kembali dunia , jika mereka kembali kepada pandangan hidup mereka, bahwa mereka mengimani Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan mereka, mereka menjalani kehidupan berdasarkan aturan Allah dan kemudian mereka akan mempartanggungjawabkan setiap langkah hidupnya di akhirat nanti. Konsekuensi dari pandangan hidup tersebut sangat jelas, mereka harus hidup dibawah aturan Allah. Jika kaum muslimin hanya menjadikan kemusliman mereka sebagai label tanpa benar-benar tunduk kepada aturan Allah, maka tampak jelas kemunduran kaum muslimin. Mereka terpecah belah dalam lebih dari 50 nation state (negara bangsa) dan ini pun membuktikan bahwa kaum muslimin belum hidup berlandaskan hukum Allah, sebagaimana Islam telah menggariskan bahwa tidak boleh ada dua kepemimpinan dalam tubuh kaum muslimin. Perhatikanlah Amerika Serikat, sebuah perserikatan negara-negara bagian yang satu ideologi. Begitu pula Eropa yang mulai bangkit kembali dengan membentuk perjanjian Maastricht dengan cita-cita menjadikan Eropa satu negara, bahkan mereka sekarang mulai menyatukan mata uang mereka.
Kaum muslimin memiliki ideologi terbaik, sebuah ideologi yang mengatur kebutuhan hidup manusia, tidak melepaskannya secara liar dan tidak mengekangnya bahkan tidak menghapuskan kebutuhan hidup manusia. Kaum muslimin memiliki ideologi Islam yang secara kaffah mengatur kehidupan manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sistem pemerintahan dalam ideologi Islam adalah terbaik, sistem ekonominya membuat manusia sejahtera, sistem sosial dimana interaksi pria-wanita terjadi menjadikan manusia memiliki kehormatan sebagai manusia, sistem pendidikannya menjadikan manusia memiliki pemikiran cemerlang, dinamis dan produktif. Dan semua aturan kehidupannya pasti sesuai dengan fitrah manusia.
Mari kita kembali kepada fitrah manusia yang membutuhkan rasul, fitrah bahwa diri kita lemah, sehingga kita membutuhkan tuntunan dari Dzat yang menciptakan kita. Dialah Allah SWT.


Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Tidak diragukan lagi bahwasanya dalam syariat Islam, selain puasa wajib di bulan Ramadhan, kaum muslim pun diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Puasa sunah ini memiliki banyak keutamaan,sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsi, Allah Swt berfirman:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه) رواه  ومسلم
                "Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)." Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi .                Salah satu keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal - Puasa Enam hari di bulan Syawal memiliki dalil yang shahih.
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال كان كصيام الدهر" رواه مسلم
“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun. 
Sebagian orang meragukan hadits berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits. Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.
“Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.” Oleh karena itulah Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.
Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal dua Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah Enam hari ini pada tanggal satu  Syawal maka hukumnya tidak sah dan haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata,
عن عمر بن الخطاب وأبي هريرة وأبي سعيد رضي الله عنهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن صوم يوم الفطر ويوم الأضحى
 “Nabi Muhammad Saw., melarang berpuasa pada dua hari raya; idul fitri dan idul adha.(maksudnya tanggal satu Syawal atau sepuluh bulan Dzulhijjah .  
Praktik berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa di bulan Ramadhan, boleh bersahur dan berhenti sahur saat waktu imsak. Perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun apabila merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133, sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin.
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين
Allah berfirman, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”.
Demikian saja sekilas tentang Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal. Ingat, tidak ada lagi hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha, jadi pembaca setelah melaksanakan puasa Enam hari di bulan Syawal tak usah lagi merayakannya dan mengucapkan selamat hari raya.

 Sumber : www.nu.or.og

Gus Dur juga SUka Koleksi


Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009, dikenal sebagai penggemar fanatik sepakbola.
Menurut anak pertamanya, Alissa Qotrunnada, mendiang bahkan memiliki satu koper berisi guntingan artikel-artikel tentang sepakbola dari koran atau kliping.
"Kliping bapak banyak banget. Bapak punya satu koper isinya guntingan artikel-artikel tentang bola dari koran," kata Alissa saat menemani ibunya, Sinta Nuriyah, menghadiri pekan #BedaIsMe di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, semalam.
"Tetapi kopernya sudah tidak tahu kemana, mungkin kita harus cari-cari lagi," tambahnya.
Alissa mengatakan ayahnya memang penggemar fanatik bola namun Gus Dur tidak pernah memfanatiki satu tim atau negara, melainkan gemar menganalisis permainan suatu tim.
"Bapak bukan fanatik suatu tim, dia suka sekali analisis. Jadi sukanya analisis misal melihat tim ini karena pelatihnya ini maka bisa melakukan strategi ini," ujar Alissa.
Namun, karena gangguan penglihatan yang dideritanya sejak tahun 1994, lanjut Alissa, Gus Dur hanya bisa menonton bola dengan mendengar ucapan komentator. Sejak itulah, Alissa yang awalnya penggemar berat sepak bola menjadi enggan menonton sepakbola lagi termasuk Piala Eropa 2012.
"Sejak penglihatan bapak sangat berkurang tahun 1994 sampai benar-benar berat tahun 1997, kalau lagi nonton sepak bola saya selalu kepikiran bagaimana rasanya bapak ya sudah tidak bisa nonton bola lagi," kata Alissa yang sejak remaja sudah diajaro teknis dan analisis sepak bola oleh Gus Dur.

Ia menambahkan, "akhirnya sekarang saya benar-benar tidak bisa  nonton bola. Pasti inget bapak."
Sumber: bisnis.com | Senin, 11 Juni 2012 |


Kata Gus Dur :-)

Damai Dalam Pertentangan

Oleh: Abdurrahman Wahid

Memang ironis kalau simbol lebih dikenal dari kenyataan. Tapi itulah yang terjadi di Tokyo bulan lalu, April 1983. Film Gandhi, yang baru saja memenangkan delapan Oscar di Hollywood, diputar serentak di sekian bioskop. Karcis dibeli berebutan . Masyarakat Jepang rupanya disentuh nuraninya oleh film yang menggambarkan perlawanan tanpa kekerasan.
Namun sebuah kejadian lain di Tokyo waktu itu hampir-hampir tidak memperoleh perhatian. Hanya dimuat dalam berita pendek di sudut bawah koran-koran Jepang: Uskup Agung Helder Camara menerima Hadiah Niwano untuk perdamaian. Padahal tahun inilah hadiah itu pertama kali di berikan.
Hadiah Niwano rencananya akan dikeluarkan tiap tahun oleh Yayasan Perdamaian Niwano, salah satu lembaga yang berasal dari gerakan kaum Budhis terbesar di Jepang, Rissbo-Kosei-Kai. Di samping memberikan hadiah untuk prestasi terbaik dalam menumbuhkan saling pengertian antar agama dan memajukan perdamaian, yayasan itu juga menjadi sponsor Konperensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (World Conference on Peace and Religion) yang sudah berlangsung tiga kali sampai saat ini.
Dan hadiah Niwano justru punya arti penting oleh pemilihan pemenangnya yang pertama kali ini: Uskup Agung Olinda-Recife, Brazilia, Helder Pessoa Camara, yang oleh penggemarnya disebut Dom Helder. Ialah "uskup merah". Yang berarti, hadiah perdamaian itu diberikan berdasar pertimbangan yang tidak konvensional tentang ‘perdamaian' itu sendiri. Ini menjadi jelas bila bentuk penghargaan baru itu dibandingkan dengan Hadiah Nobel untuk perdamaian.
‘Perdamaian', dalam Hadiah Nobel, mengandung arti menghindarkan , melerai, mengurangi atau menyelesaikan konflik. Konfliknyapun tidak dibatasi, baik terorisme bersenjata di Irlandia Utara maupun pertentangan politik seperti sengketa Arab-Israel. Tidak heran kalau dari pejuang palang merah sampai pejabat pemertintah dapat meraih penghargaan itu ( Sadat dan Begin, misalnya ). Juga pejuang kemanusiaan dalam arti umum seperti Albert Schweitzer yang bergulat dengan penyakit Lepra di Afrika Hitam, atau suster Marie Therese yang mengurusi kaum melarat di Calcutta, India.
Dalam wawasan serba konvensional itu yang ditinggalkan Yayasan Niwano, setidaknya tahun ini. ‘Uskup Merah' Dom Helder tidak akan memperoleh julukan julukan merah kalau ia menghindar dari konflik. Yang dilakukannya justru mendorong berlangsungnya perlawanan terhadap kekuasaan militer yang menindas rakyat dan struktur yang timpang, di negaranya sendiri maupun di seluruh Amerika Latin umumnya.
Hanya saja perlawanan yang diserukan dan ditunjangnya bukan perlawanan bersenjata, apalagi terorisme. Dan disini ia memenuhi kedua Krieria Yayasan Niwano: memajukan perdamaian dan sekaligus mengembangkan saling pengertian antar agama. Dan caranya dianggap unik.
Bermula dari keyakinan akan kebenaran moralitas yang bersandar pada rasa kasih sayang, ia menghimbau kalangan rohaniawan agamanya sendiri untuk menegakkan masyarakat baru yang tidak diwarnai penindasan. Upaya menghilangkan penindasan berarti kesediaan untuk turut menegakkan struktur ekonomi yang adil - yang bebas dari ekploitasi kalangan yang oleh Dom Helder di sebut ‘mereka yang memiliki uang', alias kaum modal. Kalau pemerintah, dan kekuasaan yang ada, mengukuhkan struktur eksploitatif, kalangan agama harus memunculkan alternatif mereka di bawah swadaya masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan, membebaskan dari kungkungan hukum yang tidak adil dan memperjuangkan hak-hak asasi.
Petani didorong berani mengambil inisiatif dan memulai perombakan struktur pemilikan dan penguasaan tanah, alias Landreform. Dilanjutkan dengan membentuk usaha prakooperatif. Kaum buruh di kota didorong berani menuntut hak mereka dari pihak majikan- kalau perlu dengan pemogokan. Generasi muda diimbau memperjuangkan hak-hak politik sepenuhnya, kalau perlu dengan demonstrasi. Dan kalangan Intelektual diminta mempelopori jaringan pendidikan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan golongan miskin ; penyadaran akan keberadaan mereka dan kemampuan yang mereka miliki untuk mengubah nasib.
Sikap seperti itu, menurut kacamata Uskup Agung Helder Camara, adalah inti perdamaian. Itulah upaya menegakkan masyarakat yang benar-benar adil. Hanya saja upaya tersebut dilakukan tidak dengan merobohkan sistem kekuasaan yang ada, melainkan mengubahnya berangsur-angsur.. Tindak kekerasan dari pemegang kekuasaan harus dihadapi dengan sikap menentang bentuk kekerasan itu sendiri. Disini bertemulah sikap menjunjung tinggi perdamaian (tanpa mengurangi sedikit pun kewajibang menentang struktur masyarakat yang timpang ) di satu pihak dan sikap mengembangkan saling pengertian antar agama di pihak lain.
Dom Helder memang secara terbuka ‘meminjam' cara-cara yang dikembangkan agama lain. Yaitu dari perjuangan Mahatma Gandhi di lingkungan agama Hindu dan Martin Luther King di kalangan agama Protestan. Gandhi memperjuangkan kemerdekaan India, sedangkan King memperjuangkan hak-hak sipil golongan kulit hitam di Amerika Serikat, namun keteguhan mereka untuk berjuang secara militan tanpa kekerasan adalah sesuatu yang secara universal dapat dilakukan kalangan mana pun termasuk kalangan Katholik Amerika Latin - mungkin demikian jalan pikiran Helder. Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama seperti itu, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?
Banyak yang dapat diambil dari kiprah menegakkan perdamaian di tengah pertentangan, dan saling pengertian di tengah perbedaan ajaana dan paham. Relevankah pelajaran itu bagi kita ? Kita sendiri sudah tentu tahu jawabannya - walaupun aneh juga bahwa dari Indonesia datang pencalonan untuk hadiah tersebut, yang mengusulkan seorang jendral. Konsepnya tentang perdamaian tentu lain lagi.
(Sumber: TEMPO, 21 Mei 1983)
Description: Foto: Damai Dalam Pertentangan

Oleh: Abdurrahman Wahid

Memang ironis kalau simbol lebih dikenal dari kenyataan. Tapi itulah yang terjadi di Tokyo bulan lalu, April 1983. Film Gandhi, yang baru saja memenangkan delapan Oscar di Hollywood, diputar serentak di sekian bioskop. Karcis dibeli berebutan . Masyarakat Jepang rupanya disentuh nuraninya oleh film yang menggambarkan perlawanan tanpa kekerasan.

Namun sebuah kejadian lain di Tokyo waktu itu hampir-hampir tidak memperoleh perhatian. Hanya dimuat dalam berita pendek di sudut bawah koran-koran Jepang: Uskup Agung Helder Camara menerima Hadiah Niwano untuk perdamaian. Padahal tahun inilah hadiah itu pertama kali di berikan.

Hadiah Niwano rencananya akan dikeluarkan tiap tahun oleh Yayasan Perdamaian Niwano, salah satu lembaga yang berasal dari gerakan kaum Budhis terbesar di Jepang, Rissbo-Kosei-Kai. Di samping memberikan hadiah untuk prestasi terbaik dalam menumbuhkan saling pengertian antar agama dan memajukan perdamaian, yayasan itu juga menjadi sponsor Konperensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (World Conference on Peace and Religion) yang sudah berlangsung tiga kali sampai saat ini.

Dan hadiah Niwano justru punya arti penting oleh pemilihan pemenangnya yang pertama kali ini: Uskup Agung Olinda-Recife, Brazilia, Helder Pessoa Camara, yang oleh penggemarnya disebut Dom Helder. Ialah "uskup merah". Yang berarti, hadiah perdamaian itu diberikan berdasar pertimbangan yang tidak konvensional tentang ‘perdamaian' itu sendiri. Ini menjadi jelas bila bentuk penghargaan baru itu dibandingkan dengan Hadiah Nobel untuk perdamaian.

‘Perdamaian', dalam Hadiah Nobel, mengandung arti menghindarkan , melerai, mengurangi atau menyelesaikan konflik. Konfliknyapun tidak dibatasi, baik terorisme bersenjata di Irlandia Utara maupun pertentangan politik seperti sengketa Arab-Israel. Tidak heran kalau dari pejuang palang merah sampai pejabat pemertintah dapat meraih penghargaan itu ( Sadat dan Begin, misalnya ). Juga pejuang kemanusiaan dalam arti umum seperti Albert Schweitzer yang bergulat dengan penyakit Lepra di Afrika Hitam, atau suster Marie Therese yang mengurusi kaum melarat di Calcutta, India.

Dalam wawasan serba konvensional itu yang ditinggalkan Yayasan Niwano, setidaknya tahun ini. ‘Uskup Merah' Dom Helder tidak akan memperoleh julukan julukan merah kalau ia menghindar dari konflik. Yang dilakukannya justru mendorong berlangsungnya perlawanan terhadap kekuasaan militer yang menindas rakyat dan struktur yang timpang, di negaranya sendiri maupun di seluruh Amerika Latin umumnya.

Hanya saja perlawanan yang diserukan dan ditunjangnya bukan perlawanan bersenjata, apalagi terorisme. Dan disini ia memenuhi kedua Krieria Yayasan Niwano: memajukan perdamaian dan sekaligus mengembangkan saling pengertian antar agama. Dan caranya dianggap unik.

Bermula dari keyakinan akan kebenaran moralitas yang bersandar pada rasa kasih sayang, ia menghimbau kalangan rohaniawan agamanya sendiri untuk menegakkan masyarakat baru yang tidak diwarnai penindasan. Upaya menghilangkan penindasan berarti kesediaan untuk turut menegakkan struktur ekonomi yang adil - yang bebas dari ekploitasi kalangan yang oleh Dom Helder di sebut ‘mereka yang memiliki uang', alias kaum modal. Kalau pemerintah, dan kekuasaan yang ada, mengukuhkan struktur eksploitatif, kalangan agama harus memunculkan alternatif mereka di bawah swadaya masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan, membebaskan dari kungkungan hukum yang tidak adil dan memperjuangkan hak-hak asasi.

Petani didorong berani mengambil inisiatif dan memulai perombakan struktur pemilikan dan penguasaan tanah, alias Landreform. Dilanjutkan dengan membentuk usaha prakooperatif. Kaum buruh di kota didorong berani menuntut hak mereka dari pihak majikan- kalau perlu dengan pemogokan. Generasi muda diimbau memperjuangkan hak-hak politik sepenuhnya, kalau perlu dengan demonstrasi. Dan kalangan Intelektual diminta mempelopori jaringan pendidikan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan golongan miskin ; penyadaran akan keberadaan mereka dan kemampuan yang mereka miliki untuk mengubah nasib.

Sikap seperti itu, menurut kacamata Uskup Agung Helder Camara, adalah inti perdamaian. Itulah upaya menegakkan masyarakat yang benar-benar adil. Hanya saja upaya tersebut dilakukan tidak dengan merobohkan sistem kekuasaan yang ada, melainkan mengubahnya berangsur-angsur.. Tindak kekerasan dari pemegang kekuasaan harus dihadapi dengan sikap menentang bentuk kekerasan itu sendiri. Disini bertemulah sikap menjunjung tinggi perdamaian (tanpa mengurangi sedikit pun kewajibang menentang struktur masyarakat yang timpang ) di satu pihak dan sikap mengembangkan saling pengertian antar agama di pihak lain.

Dom Helder memang secara terbuka ‘meminjam' cara-cara yang dikembangkan agama lain. Yaitu dari perjuangan Mahatma Gandhi di lingkungan agama Hindu dan Martin Luther King di kalangan agama Protestan. Gandhi memperjuangkan kemerdekaan India, sedangkan King memperjuangkan hak-hak sipil golongan kulit hitam di Amerika Serikat, namun keteguhan mereka untuk berjuang secara militan tanpa kekerasan adalah sesuatu yang secara universal dapat dilakukan kalangan mana pun termasuk kalangan Katholik Amerika Latin - mungkin demikian jalan pikiran Helder.  Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama seperti itu, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?

Banyak yang dapat diambil dari kiprah menegakkan perdamaian di tengah pertentangan, dan saling pengertian di tengah perbedaan ajaana dan paham. Relevankah pelajaran itu bagi kita ? Kita sendiri sudah tentu tahu jawabannya - walaupun aneh juga bahwa dari Indonesia datang pencalonan untuk hadiah tersebut, yang mengusulkan seorang jendral. Konsepnya tentang perdamaian tentu lain lagi.

(Sumber: TEMPO, 21 Mei 1983)



Iblis

Iblis Datang dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita
Di dalam Al Qur’an, akan kita dapati sebuah rekaman dialog antara Allah SWT dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis menyatakan untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut terekam dalam  surat Al A’raf ayat 16-17 berikut ini:
tA$s% !$yJÎ6sù ÏZoK÷ƒuqøîr& ¨byãèø%V{ öNçlm; y7sÛºuŽÅÀ tLìÉ)tFó¡ãKø9$# ÇÊÏÈ   §NèO Oßg¨YuÏ?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ßÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ 
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).’” (QS. Al A’raf : 16-17)
Dari ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa Iblis akan selalu menghalang-halangi kita dari jalan yang lurus. Caranya, dia akan mendatangi kita dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri kita. Lalu apa maksud dari keempat penjuru itu?
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 17 di atas adalah:
 §NèO Oßg¨YuÏ?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ßÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ 
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka”: Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim),
“dan dari belakang mereka”: membuat mereka cinta kepada dunia (Wa Min Kholfihim),
“dari kanan”: urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas (Wa ‘An Aimaanihim)
“dan dari kiri mereka”: dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa ‘An Syama’ilihim). Lalu timbul pertanyaan di benak kita, mengapa iblis tidak mendatangi kita dari atas dan dari bawah kita? Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah tafsir Al Qur’an berikut ini:
Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka” (At-Tafsir Al-Kabir V/215)
Dalam tafsir yang lain juga dikatakan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu katsir III/394-395).
Oleh karena itu iman adalah senjata kita. Berdoalah, mari kita berlindung kepada Allah atas segala godaan syaithan yang terkutuk.