Selasa, 27 Mei 2014

Paradigma Manajemen Pendidikan Islam

   Paradigma Manajemen Pendidikan Islam
Ada sementara cendekiawan berpendapat bahwa lahirnya ilmu pendidikan islam, termasuk di dalamnya manajemen pendidikan Islam, yang menjadi  konsentrasi atau program study di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), merupakan perwujudan dari sikap mengada-ngada atau pemaksaaan kehendak dari para intelektual muslim dikalangan PTAI. Kata Islam yang melekat pada disiplin ilmu tersebut dipandang sebagai adopsi dari disiplin ilmu yang telah ada sebelumya dan telah mapan, kemudian diberi label “Islam”.
            Pendapat tersebut ada benarnya jika para intelektual muslim di PTAI tidak smpat memberikan landasan dan argumentasi yang kukuh terhadap eksistensi ilmu agama Islam tersebut. Apalagi persyaratan disiplin, ilmu agama Islam itu tidak jelas demarkasinyari dari ilmu-ilmu yang lain, atu lebih ironis lagi hanya sekedar memberi legalitas dan justifikasi bahwa hal it sudah ada dalam Islam. Namun demikian, jika mereka berusaha menjelaskannya dengan landasan filosofis yang kukuh dan mampu membedakan secara tajam antara disiplin ilmu agama Islam dengan Ilmu-ilmu lainnya, seperti antara manajemen pendidikan Islam yang dikembangkan di PTAI dengan manajemen yang dikembangkan di Pergururuan Tinggi Umum, maka kesan mengada-ada atau pemaksaan kehendak tersebut sedikit demi sedikit akan menjadi sirna, atau bahkan disiplin manajemen pendidikan Islam akan mendapat pengakuan dari ilmuan pada umumnya. Lagi pula jika hasil-hasil penelitian dan teori-teori yang dibangun oleh ilmuan tertentu dengan objek kajian dan metodologinya yang jelas dapat dideklerasikan sebagai disiplin ilmu baru dan memperoleh pengakuan dari ilmuan dapa umumnya, mengapa hasil-hasil kajian dari ilmuan tidak bisa diterima? Padahal masing-masing ilmuan memiliki hak untuk membangun suatu disiplin ilmunya yang baru sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis dan ilmiyah.

            Atas dasar itulah, kajian ini berusaha untuk menjelaskan adakah manjemen pendidikan islam itu? Diman letak perbrdaan dan demarkasinya dengan manajemen pendidikan islam pada umumnya, terutama jika dilihat dari segi paradigma l\keilmuannnya? Kajia ini mencoba menjawab kedua persoalan tersebut, yang dimaksudkan agar para dosen, mahasiswa, dan pengelola pendidikan yang ingin menekuni disiplin menajemen pendidikan Islam tersebut dapat mengembangkan teori-teorinya secara lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah.

Manajemen Personalia

  Personalia ialah semua anggota organisasi yang bekerja untuk kepentingan organisasi yaitu untuk mencapai tujuan yag sudah di tentukan . personalia organisasi pendidikan mencakup para guru, para pegawai, dan wakil siswa/mahasiswa. Termasuk juga manajer pendidikan yang mungkin dipegang oleh beberapa guru.[1]
Personalia ini di tangani oleh para manajer agar aktivitas mereka dapat dipertahankan dan semakin meningkat. Para manajer  akan membina mereka, berusaha mewujudkan antar hubungan yang baik, menilai dan mempromosikan mereka, dan berupaya meningkatkan kesejahteraan mereka.[2]
A.    Manfaat Manajemen Personalia
Manajemen personalia ialah bagian manajemen yang memperhatikan orang-orang dalam organisasi yang merupakan salah satu sub sistem manajemen. Perhatian terhadap orang-orang itu mencakup merekrut, menempatkan, melatih dan mengembangkan, dan meningkatkan kesejahteraan mereka yang dikatakan sebagai fungsi manajemen personalia fungsi ini menunjukkan apa yang harus ditangani olen manajer pada segi personalia.[3]
Sikula menunjukkan tidak hanya hal-hal diatas itu saja yang harus ditangani oleh manajer melainkan lebih dari itu yang merupakan ruang lingkup manajemen personalia. Ialah meliputi pembentukan staf dan penilaian, melatih dan mengembangkan, memberikan kesejahteraan uang dan layanan, memperhatikan kesejahteraan dan keamanan, memperbaiki antar hubungan, merencanakan personalia, dan mengadakan penelitian personalia. Jadi yang harus diperhatikan oleh manajer ialah segala sesuatu yang menyangkut personalia, mulai dari merencanakan , merekrut, menyeleksi, meneliti untuk perbaikan, dan sebagainya sampai dengan memberhentikan atau memberi pension kepada para petugas. 
Walaupun secara konsep dikatakan bahwa personalia pendidikan merupakan kunci keberhasilan pendidikan, kenyataannya mereka ini kurang mendapat perhatian, kurang ditangani oleh para manajer. Rapat kerja, seminar, dan diskusi tentang pendidikan sebagian terbesar hanya membahas kurikulum saja terutama tentang proses belajar mengajar. Tetapi bagaimana caranya agar proses belajar mengajar yang dihasilkan oleh seminar itu dapat dilaksanakan  oleh guru-guru hampir tidak pernah diperhatikan. Ini rupanya yang menjadi penyebab kegagalan inovasi dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, para manajer pendidikan memberikan perhatian kepada personalia yang sama besarnya dengan perhatian kepada kurikulum/teknik dan juga kepada sub system manajemen yang lain. Dengan perhatian yang besar ini manajer diharapkan dapat mewujudkan prilaku organisasi pada setiap anggota organisasi. Suatu prilaku yang tidak mementingkan kebutuhan sendiri, juga sebaliknya tidak hanya mementingkan kebutuhan organisasi. Melainkan perpaduan dari keduanya, suatu prilaku yang mementingkan pendidikan tanpa mengorbankan kepentingan pribadi.
Manajer akan dapat melakukan tugas ini bila ia melaksanakan peranannya dengan sebaik-baiknya. Peranan manajer dalam apel personalia ialah memiliki angan-angan social, sebagai konselor, pendamai, tukang bicara, pemecahan masalah, agen perubahan, rasio personalia, tugas campuran, dan sebagainya. Memiliki angan-angan sosial maksudnya ialah manajer berusaha  menegakkan prinsip-prinsip kemanusiaan, memperhatikan moral dan etika bawahannya, membuat bawahannya tertarik akan tugas, dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Manajer akan bertindak sebagai konselor terhadap masalah-masalah pribadi, bertindak sebagai pendamai kalu ada pertengkaran-pertengkaran atar kelompok, dan ia akan berusaha memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam organisasi. Manajer juga bertugas sebagai pembicara mewakili organisasinya dalam forum-forum tertentu, ia mengkreasikan perubahan untuk mempertahankan kehidupan dan memajukan organisasi, ia menentukan rasio personalia, dan beraneka ragam tugas yang kadang-kadang aneh yang jarang ditemukan pada sub system manajemen yang lain.
Jadi peranan manajer personalia adalah memajukan organisasi dan sekaligus memperhatikan dan memajukan prsonalia. Keduanya harus dimajukan bersama. Cukup sulit memajukan organisasi tanpa memajukan personalia, sebaliknya tidak mungkin memejukan personalia tanpa memajukan organisasi sebab tidak diizinkan karena tidak ada dana sebab organisasi macet.
Berikut ini akan dibahas secara berturut-turut hal-hal yang penting yang perlu ditangani oleh para manajer pendidikan. Hal-hal tersebut ialah perencanaan personalia, pengembangan personalia, antar hubungan, penilaian dan promosi, kesejahteraan dan riset personalia.


[1] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta:Rineka Cipta,2004), hal 108
[2] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam ( Jakarta: Erlangga: 2007). Hal, 131
[3] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta:Rineka Cipta,2004), Hal 109

pengertian dan tujuan pengawasan

1.      Pengertian Pengawasan
Pengawasan adalah proses pengamatan dari pada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai rencana yang ditetapkan.[1]
Pengawasan manajemen dapat diartikan sebagai usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan sasaran perencanaan, merancang system umpan balik informasi, membandingkan prestasi aktualdengan setandart yang telah ditetapkan, menentukan apakah terdapat penyimpangan dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumberdaya perusahaan yang sedang digunakan sedapat mungkin secara lebih efisien dan efektif guna mencapai sasaran perusahaan.[2]
Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian, wadah, struktur, fungsi dan mekanisme, sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standard dan tujuan yang jelas.
Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa kepengawasan merupakan kegiatan atau tindakan pengawasan dari seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang dan atau lembaga yang dibinanya. Seseorang yang diberi tugas tersebut disebut pengawas atau supervisor.
Dalam bidang kependidikan dinamakan pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan. Pengawasan perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berkesinambungan pada sekolah yang diawasinya.
Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan, kualitas guru, kepala sekolah, staf sekolah (Tenaga Administrasi, Laboran dan Teknisi, Tenaga Perpustakaan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian dan komponen-lainnya.
 Ini berarti melalui pengawasan harus terlihat dampaknya terhadap kinerja sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Itulah sebabnya kehadiran pengawas sekolah harus menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu pendidikan, agar bersama guru, kepala sekolah dan staf sekolah lainnya berkolaborasi membina dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan seoptimal mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

2.      Tujuan Pengawasan
a.       Menjamin ketepatan pelaksanaan sesuai rencana, kebijaksanaan dan perintah (aturan yang berlaku)
b.      Menertibkan koordinasi kegiatan.
c.       Mencegah pemborosan dan penyimpangan.
d.      Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa yang dihasilkan.
e.       Membina kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan organisasi.
f.       Mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak.
g.      Memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengusahakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan baru.
h.      Mengetahui penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana awal (planning) terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang direncanakan;
i.        Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (fase/tingkat pelaksanaan).
j.        Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.



[1] Ulbert Silalahi, Studi Tentang Ilmu Administrasi (Bandung: CV Sinar Baru, 2000), 175.
[2] Bedjo Siswanto, Manajemen Tenaga Kerja (Bandung: CV Sinar Baru, 2000), 159.

Manfaat Analisis SWOT

MANFAAT ANALISIS SWOT
1.          Mengubah pola pikir guru
2.          Mengaktifkan kegiatan siswa
3.          Meningkatkan disiplin peserta didik
4.          Membentuk kelompok belajar
5.          Meningkatkan layanan perpustakaan
6.          Mengadakan dan membuat perubahan dikelas


Jenis-jenis Analisis SWOT

A.    JENIS-JENIS ANALISIS SWOT
1.      Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu Threath (T).
         Kemudian setelah masing-masing komponen dirumuskan dan dipasangkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses penilaian. Penilaian dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing -masing subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan subkomponen yang lain dalam komponen yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen yang lebih menentukan dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih besar. Standar penilaian dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas penilaian.
2.      Model Kualitatif
Urutan dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, Subkomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya, Subkomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah.
Sebagai alat analisa, analisis SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta.Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan.
1.                  Visi
Langkah awal dalam perumusan strategi (Strategy Formulation) adalah penetapan visi. Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistic dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu . Visi harus dapat memberi kepekaan yang kuat tentang area focus bisnis. Bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan sarana untuk:
1.    Mengkomunikasikan alas an keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.
2.    Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).
3.    Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.
4.    Pernyataan visi perlu diekspresikan dengan baik agar mampu menjadi tema yang mempersatukan semua unit dalam organisasi, menjadi media komunikasi dan motivasi semua pihak, serta sebagai sumber kreativitas dan inovasi organisasi.  Kriteria-kriteria pembuatan visi meliputi:
5.    Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandangan idial masa depan yang ingin diwujudkan.
6.    Visi dapat memberikan arahan mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik.
7.    Dapat menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan.
8.    Gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik.
9.    Sifatnya tidak statis dan tidak untuk selamanya.

10. Suatu visi akan menjadi realistik, dapat dipercaya, menyakinkan, serta mengandung daya tarik, maka dalam proses pembuatannya perlu melibatkan semua stakeholders. Selain keterlibatan semua pihak, visi perlu secara intensif dikomunikasikan kesemua anggota organisasi sehingga mereka merasa sebagai pemilik visi tersebut. Selain itu visi dibuat dalam kalimat yang singkat agar mudah diingat dan dijadikan komitmen

Analisis Swot

   A.    PENGERTIAN ANALISIS SWOT
SWOT adalah singkatan dari Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), Threats (tantangan). Analisa SWOT adalah alat yang digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu internal dan eksternal yang mempengaruhi kemampuan kita dalam memasarkan event kita.Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran).[1]
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
S  =   Strength, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
W =  Weakness,.adalah situasi atau kondisi yang  merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
O  =    Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang  di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi  organisasi di masa depan.
T  =  Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.
            Dalam dunia pendidikan analisis ini digunakan untuk mengevaluasi fungsi pengembangan kurikulum, fungsi perencanaan dan evaluasi, fungsi ketenagaan, fungsi keuangan, fungsi proses belajar mengajar, fungsi pelayanan kesiswaan, fungsi pengembangan iklim akademik, fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat dan sebagainya dilibatkan. Maka untuk mencapai tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya dilakukanlah analisis SWOT.
Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.Berhubung tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor internal maupun eksternal.[2]


[1] Arifin, Abdul ranchman. 2006. KerangkaPokok- PokokManagemen, Jakarta:RenkaCipta.

[2] Hadari, Nawawi .2005.ManajemenStrategik, GadjahMadaPers : Yogyakarta

Administrasi Sebagai Manajemen

   1.      Administrasi sebagai manajemen
Ada banyak pendapat yang membedakan dan menyamakan makna administrasi dan manajemen diantaranya sebagai berikut :
1.      Pendapat yang mempersamakan arti dan manajemen
William H. Newman dalam bukunya jelas-jelas tidak membedakan adminitrasi dengan manajemen. Apa yang dimaksud dengan arti adminitrasi, termasuk pula dalam arti manajemen.
M. E.Dimock dalam bukunya mengemukakan dua kata itu saling kait mengait, ia memberikan devinisi adminitrasi sebagai berikut :
(Adminitrasi atau manajemen) adalah suatu pendekatan yang terencana terhadap pemecahan semua macam masalah yang kebanyakan terdapat pada setiap individu atau kelompok baik negara atau swasta.
2.      Pendapat yang membedakan arti adminitrasi dan manajemen
Dalton E. Mc. Farland dalam bukunya manajemen membedakan arti administrasi dan manajemen sebagai berikut :
Administrasi ditujukan terhadap penentuan tujuan pokok dan kebijaksanaannya, sedangkan manajemen ditujukan terhadap pelaksanaan kegiatan dengan maksud menyelesaikan atau mencapai tujuandan pelaksanaan kebijaksanaan. Ordway Tead juga tegas-tegas membedakan arti adminitrasi dan manajemen.
3.      Persamaan dan Perbedaan Administrasi dengan Manajemen
Menurut Panglaykim dan Tanzil (1986: 34), jika manajemen menetapkan kebijaksanan yang harus dituruti, maka administrasi yang menyelenggarakannya. Sedangkan menurut Sutisna (1987), dalam pemakaian secara umum administrator dan manajer dikatakan sama. Persamaan lain yakni administrasi dan manajemen sama-sama menjalankan fungsi ‘to control’ yang berarti mengatur dan mengurus.
Tidak semua orang menganggap istilah manajemen dan administrasi memiliki makna yang sama, dan pada kenyataannya memang tidak selamanya keduanya memiliki makna yang sama apalagi jika dihubungkan dengan konteks situasi lembaga. Umumnya, pada lembaga pemerintahan istilah yang dipergunakan adalah administrasi, sedangkan pada lembaga-lembaga komersil istilah manajemen lebih banyak digunakan.
Istilah manajemen mempunyai makna yang lebih marketable dan bergengsi. Sejalan dengan itu, istilah administrasi khususnya dalam dunia pendidikan seakan-akan hanya diartikan sebagai pekerjaan tulis menulis, kearsipan/pembukuan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ketatausahaan. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Sutisna (1987) bahwa administrasi lebih cocok digunakan pada lembaga-lembaga pemerintah yang mengutamakan kepentingan sosial, sedang manajemen cocok untuk lembaga-lembaga swasta yang lebih mengutamakan komersial.
Walaupun sebetulnya antara administrasi dan manajemen berbeda sifat, namun antara keduanya sering disamakan. Di bawah ini dapat ditemui beberapa pendapat oleh para cendekiawan atau ilmuwan yang tidak membedakan antara administrasi dan manajemen atau paling sedikit penggunaan artinya saling berkaitan antara 2 kata tersebut.
William H. Newman dalam bukunya Administration Action, jelas-jelas tidak membedakan antara administrasi dan manajemen. Apa yang dimaksud administrasi, termasuk dalam arti manajemen. Sekalipun bukunya disebut/dinamakan Administrative Action, tetapi isinya ialah "The techiques of organization and management".
M.F. Dimock dalam bukunya Public Administration, mengemukakan dua kata yang saling kait mengait. Ia memberikan definisi administrasi sebagai berikut. "Administration (or management) is a planned approach to the solving ofall kinds of problems in almost every individual or group activity both publics or private". (Administrasi atau manajemen adalah suatu pendekatan rencana terhadap pemecahan/semua macam masalah yang kebanyakan terdapat pada setiap individu atau kelompok, baik negara atau swasta) Dari definisi di atas jelas bahwa antara administrasi dengan manajemen tidak ada perbedaan, namun disamakan.
Seperti diketahui bahwa antara manajemen dan administrasi itu dua-duanya berbeda, maka untuk memperjelas pendalaman kita terhadap dua kata administrasi dan manajemen tersebut, dapat dikutip pendapat para ilmuwan seperti di bawah ini.
Dalton B. Me. Farland dalam bukunya Management membedakan administrasi dengan manajemen sebagai berikut. "Administration refers to the determination of major aims and policies, where as management refers to the carrying out of operation designed to accomplish the aims and effective policies". (Administrasi ditunjukkan terhadap penentuan tujuan pokok dan kebijakannya, sedangkan manajemen ditunjukkan terhadap pelak¬sanaan kegiatan dengan maksud menyelesaikan/mencapai tujuan dan pelaksanaan kebijakan yang telah diambil).
Pendapat lain adalah yang diberikan oleh Ordway Tead. Tead tegas-tegas membedakan arti administrasi dengan manajemen. Hal ini dapat ditemukan dalam buku Mc. Farland yang berjudul Management Principle and Practices, halaman 11 yang berbunyi sebagai berikut. "Administration is the process and agency which is responsible for the diterminition of the aims for which an organization and its management are to achive... etc." (Administrasi adalah suatu proses dan badan yang bertanggung jawab untuk menentukan tujuan, di mana organisasi dan manajemen digariskan, dan sebagainya).
Sedangkan “Management is the process and agency which directs and guides the operation of organization in the realizing of established aims ... etc." (Manajemen adalah suatu proses dan badan yang secara langsung memberi petunjuk, bimbingan kegiatan dari suatu organisasi dalam merealisasi tujuan yang telah ditetapkan, dan sebagainya).
Berdasarkan dua pengertian yang membedakan administrasi dan manajemen di atas, maka untuk memperjelas diberikan contoh sebagaimana dianut dalam Tata Negara Republik Indonesia. MPR sebagai penentu kebijaksanaan dan Garis-garis Besar Haluan Negara yang berlaku dalam periode 5 tahunan merupakan administrasi, sedangkan pemerintah di bawah pimpinan presiden yang melaksanakan. Merealisasikan kebijaksanaan dan GBHN yang ditetapkan oleh administrasi merupakan manajemen.
Dari uraian penjelasan di atas, bahwa administrasi sifatnya menentukan garis besar suatu kebijakan umum (general policies). Sedangkan manajemen prosesnya ialah bagaimana secara langsung kegiatan-kegiatan itu dilakukan untuk merealisasi (melaksanakan) suatu tujuan, dengan pemberian petunjuk, bimbingan, pengetahuan, dan pengaturan tindakan-tindakan yang diarahkan sedemikian rupa pada suatu usaha untuk merealisasi tujuan yang telah ditetapkan.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan antara administrasi dan manajemen adalah administrasi adalah proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Kerja dapat terselenggara dengan baik sehingga tujuan yang  dikehendaki   dapat  tercapai  bila  ada  orang  yang menyelenggarakannya. Dan masalah orang yang menyelenggarakan kerja untuk mencapai tujuan inilah yang menjadi masalah pokok daripada manajemen, karena intisari daripada manajemen ialah suatu proses/usaha dari orang-orang secara bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi administrasi adalah penyelenggaranya dan manajemen adalah orang yang menyelenggarakan kerja. Maka kombinasi dari keduanya adalah penyelengaraan kerja yang dilakukan oleh orang-orang secara bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Keterkaitan di atas dapat dianalogikan—meski tidak seluruhnya tepat—seandainya pembaca akan membeli buah rambutan. Pertama kali yang terlihat adalah kulit luar yang berwama hijau atau merah. Jika kulitnya dikupas maka didapati daging rambutan yang berwarna putih kalau dagingnya sudah dimakan maka akan terlihat intinya yang disebut biji rambutan.
Demikian pula manajemen, maka yang pertama disoroti adalah kulit luamya yaitu “Admmistnisi” Kedua dagingnya yaitu “manajemen” selanjutnya adalah bijinya yaitu “kepemimpinan”

Manajemen Sebagai Sistem

   1.   Manajemen Sebagai System
Era global sedang bergulir kencang.Tantangan berupa turbulensi semakin gencar.Berbagai jenis informasi semakin saling berseliweran saja. Perusahaan yang menjauh dari era ini akan terpuruk. Pasalnya tantangan masa kini adalah bagaimana menguasai atau mengatasi banyaknya informasi dan pengetahuan yang berasal dari segala penjuru dunia.Bagaimana perusahaan mengorganisasi informasi dan pengetahuan seoptimum mungkin?Bagaimana perusahaan memfasilitasi diseminasi informasi?Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan alasan mengapa manajemen pengetahuan dibutuhkan.Bagi perusahaan yang tergolong sebagai organisasi belajar maka manajemen pengetahuan sudah menjadi kebutuhan.
Natarajan dan Shekar (2000) dalam Jamaliah Abdul Hamid (Understanding Knowledge Management, 2003) mendefinisikan Manajemen Pengetahuan sebagai kegiatan terstruktur dari organisasi dalam rangka memperbaiki kapasitas organisasinya.Caranya adalah dengan memperoleh, membagi, dan memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan derajat kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi. David dan Associate (1997) mengatakan bahwa manajemen pengetahuan adalah suatu proses yang sistematik dalam menciptakan, mengumpulkan, mengorganisasikan, mendifusikan, memanfaatkan, dan mengeksploitasi pengetahuan. Dari definisi tersebut maka ada empat subsistem dari manajemen pengetahuan yakni mendapatkan, menciptakan, menyimpan, dan mentransfer-memanfaatkan pengetahuan.
Setiap perusahaan tentu saja berorientasi pada kebutuhan konsumen.Untuk itu perusahaan seharusnya membutuhkan informasi yang menyangkut dinamika pola perilaku pasar.Kebutuhan konsumen dan pelanggan semakin dinamis dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan pendapatan mereka. Tuntutan konsumen terhadap mutu produk (barang dan jasa) dan pelayanan misalnya mendorong perusahaan untuk menelaah kembali proses produksi, distribusi, promosi, dan pelayanan. serta model dan fasilitas pelayanan. Untuk itu perusahaan perlu memperoleh informasi tentang jenis teknologi produksi dan sistem pelayanan yang mutahir.Apa saja teknologi yang layak ditinjau dari sisi teknis, finansial dan ekonomi. Disamping itu perusahaan pun membutuhkan peningkatan mutu sumberdaya manusianya.Untuk itu pengetahuan tentang metode rekrutmen, seleksi, pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia menjadi hal yang vital.
Sistem yang diciptakan merupakan suatu keterkaitan yang komprehensiv dari informasi dan pengetahuan dari beragam sumber seperti kalangan praktisi, ilmuwan, dan pengamat.Data dan informasi diolah, dianalisis, dan sejauh mungkin disintesis yang kemudian dipakai untuk menyusun strategi bisnis perusahaan.Tidak tertutup kemungkinan sistem ini memotivasi para karyawan untuk bekerja berbasis pengetahuan. Artinya mereka akan selalu meningkatkan mutu kinerjanya semaksimum mungkin lewat proses pembelajaran yang bersinambung. Pada gilirannya penerapan manajemen pengetahuan sebagai sistem akan meningkatkan pertumbuhan kinerja bisnis perusahaan.
Keberhasilan penerapan manajemen pengetahuan sangat bergantung pada beberapa faktor.Yang pertama adalah kualitas pemimpin perusahaan yang didukung semua lini. Disini sang pemimpin, katakanlah manajemen menengah,harus komit dan taatasas dalam menerapkan dan mengembangkan sistem secara partisipatif dan integral. Yang kedua adalah dukungan budaya kerja berbasis pengetahuan di kalangan manajemen dan karyawan. Secara eksplisit budaya pengetahuan akan memperkuat budaya kerja yang ada. Dan yang ketiga, karena sebagai sistem maka manajemen pengetahuan harus merupakan sistem bisnis perusahaan yang total.Artinya subsistem manajemen pengetahuan berkaitan dengan subsistem lainnya seperti dengan subsistem-subsistem manajemen SDM, manajemen finansial, manajemen kompensasi, manajemen produksi, manajemen pemasaran.

Dimensi Manajemen

   A.    Dimensi-dimensi Manajemen
1.Organisasi sebagai system
Suatu penelitian menunjukan hasil bahwa faktor-faktor organisasi tempat para professional bekerja mempengaruhi kepribadian dan profesi mereka.Selanjutnya dikatakan bahwa profesi dan organisasi memajukan kepribadian dan otonomi mereka sebagai professional. Hanya dalam iklim organisasi hangat kebebasan mimbar akan dapat berjalan dengan baik, yaitu hak seorang professional untuk menemukan, mengajarkan, dan mempublikasikan kebenaran sebagaimana dia lihat dalam spesialisasinya. Kehidupan seorang professional tidak hanya tampak dalam kegiatannya yang tidak terikat dan terjaminnya kebebasan mimbar, tetapi juga dalam kesempatan mengejar pengetahuan/ilmu tanpa memperhitungkan popularitas.
Sifat-sifat kegiatan para professional di atas perlu mendapat dukungan dari suasana organisasi pendidikan.Sifat kegiatan para professional yang paling penting yang dapat dipandang sebagai modal dalam merealisasi dan mengembangkan profesi mereka adalah usaha mengejar ilmu dan pengetahuan lainnya secara terus-menerus tanpa mengharapkan penghargaan/popularitas atau nafkah yang besar.
Untuk menciptakan lingkungan belajar mengajar yang sehat dan produktif, haruslah ada kesempatan dan kemauan antara professional untuk saling memberi informasi, ide, persepsi, dan wawasan.Mereka harus menyiapkan umpan balik profesi secara teratur seperti halnya yang dilakukan oleh administrator/manajer. Prinsip-prinsip kebersamaan, komunitas harus dikembangkan dalam lembaga pendidikan dengan cara saling memberi pandangan dan nilai baik yang positif maupun yang negatif.
Cara lain yang dapat ditempuh untuk menciptakan iklim organisasi yang hangat ialah dengan membuat para personalia pendidikan para pengajar khususnya sebagai masyarakat paguyuban di lembaga pendidikan. Bila lembaga pendidikan itu terlalu besar, perguruan tinggi misalnya, maka personalia itu dapat dibagi-bagi menjadi beberapa masyarakat paguyuban.
Penelitian Rebbeca memberi pemecahan terhadap kesulitan ini ialah dengan cara menyeimbangkan tindakan melalui proses kerja sama. Dalam bekerja sama otonomi individu dihargai sebab pandangan, inisiatif, dan kreativitasnya diminta untuk disumbangkan kepada kelompok.
Pancasila menginginkan masyarakat lembaga pendidikan hidup rukun, mempererat persatuan dan kesatuan, toleransi satu dengan yang lain, hidup bergotong royong saling membantu, segala sesuatu dipecahkan bersama secara musyawarah, melaksanakan kesamaan hak dan keadilan, dan sebagainya.Ciri-ciri ini adalah menunjukan ciri masyarakat paguyuban.Sehingga sehingga organisasi sebagai sistem cocok diterapkan di Indonesia atau dalam manajemen madrasah

Kedudukan Manajemen

     A.    Kedudukan Manajemen
1.Manajemen Sebagai Seni
Selain sebagai ilmu, manajemen juga dianggap sebagai seni. Hal ini disebabkan oleh kepemimpinan memerlukan kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan agak susah untuk dipelajari. Manajemen sebagai ilmu karena manajemen bisa dipelajari seperti halnya ilmu pengetahuan.Seni karena keragaman.Manajemen sebagai profesi karena manajemen biasa digunakan sebagai batu pijak dan karir.
Luther Gulick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia berkerjasama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.
Manajemen bukan hanya merupakan ilmu atau seni, tetapi kombinasi dari keduanya.Kombinasi ini tidak dalam proporsi yang tetap, tetapi dalam proporsi yang bermacam-macam.Dengan mengandalkan manajemen sebagai seni (art), sementara seni berhubungan dengan bakat, dan karenanya bersifat alamiah.Maka pengetahuan terapan manajemen hanya mungkin bagi mereka yang terlahir memang berbakat. Dengan cara pandang ini, teori manajemen hanya memberikan sejumlah prosedur atau sebagai pengetahuan yang sulit diterapkan. Karena proses manajamen ditentukan oleh subyektivitas atau style.
Selain itu juga, beberapa ahli seperti Follet menganggap manajemen adalah sebuah seni.Hal ini disebabkan oleh kepemimpinan memerlukan kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan sulit dipelajari.
Manajemen dipraktikan berdasarkan keterampilan yang diterapkan untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan

2.      Manajemen Sebagai Ilmu
Manajemen sebagai ilmu (science) yang obyektif-rasional, bisa dipelajari oleh siapapun.Bahkan para ilmuwan dengan sangat fasih menguraikan teori-teori manajemen yang dikembangkannya. Tetapi apakah mereka mampu menerapkan dalam lingkup organisasi terkecil, minimal di lingkungan kerjanya, itu soal lain. Teori-teori manajemen hanya memberi sejumlah peluang, atau kemungkinan-kemungkinan, tanpa ada kepastian keberhasilan.Teori manajemen hanya dapat membimbing kepada prestasi dan hasil yang lebih baik.Sebagai ilmu, manajemen dengan sangat sistematis merupakan suatu uraian menyeluruh mengenai konsep-konsep dan langkah-langkah praktis yang siap implimentasi. 
Manajemen sebagai ilmu karena manajemen bisa dipelajari seperti halnya ilmu pengetahuan.Seni karena keragaman.Manajemen sebagai profesi karena manajemen biasa digunakan sebagai batu pijak dan karir.
Ilmu (science), harus memiliki kerangka dasar keilmuan yang kokoh kuat : Badan pengetahuan secara sistematis diciptakan melalui metode ilmiah : Mengobservasi kejadian, menjelaskan dan memformulasi peristiwa, mengemukakan pernyataan berdasarkan penjelasan untuk meramalkan apa yang akan terjadi dan membuktikan ramalan berdasarkan penelitian yang sistematis dan terkendali.

3.Manajemen Sebagi Profesi
Banyak usaha telah dilakukan untuk mengaplikasikan menajemen sebagai suatu profesi. Edgar H. Schein telah menguraikan kriteria-kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi yang dapat diperinci sebagai berikut:
a.       Para profesional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum. Adanya pendidikan dan program-program latihan formal menunjukkan bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan.
b.      Para profesional mendapatkan status tertentu, bukan karena favoritisme atau karena suku bangsa atau agamanya dan kriteria politik atau sosial budayanya.
c.       Para profesional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat, dengan disiplin untuk mereka yang menjadi kliennya.
Manajemen telah berkembang menjadi bidang yang semakin profesional melalui perkembangan yang menyolok program-program latihan manajemen diuniversitas maupun diberbagai lembaga manajemen swasta, dan melalui pengembangan para eksekutif organisasi (perusahaan).
Manajemen sebagai Profesi Mencakup keanggotaan dari mereka yang memiliki pengetahuan khusus, diakui dan diatur oleh kode etik.
B.     Manajemen madrasah
Manajemen pada Madrasah merupakan factor penting dan strategis dalam rangka kemajuan Madrasah sebagai suatu lembaga pendidikan formal yang diharapkan dapat mencapai tujuan institusionalnya yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan dikelolah dengan system Administrasi dan manajemen pendidikan yang sehat yakni suatu system manajemen yang menerapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian. Madrasah sebagai wadah untuk mencerdaskan kehidupanbangsa yang merupakan amanah Allah dan amanah Undang-Undang Dasar 1945 melalui pendidikan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal yang mengaplikasikan fungsi-fungsi manajemen dalam kegiatan pengelolaannya.
Penerapan fungsi-fungsi manajemen pada Madrasah dalam pengelolaan pendidikan sangat tergantung pada leader dan manajemen madrasah itu, dalam hal ini adalah kepala madrasah . Keberhasilan seorang manajer diukur berdasarkan kemampuannya menyelenggarakan fungsi-fungsi manajemen tersebut . (Siagian 2002:44). Seorang manajer atau kepala sekolah pada hakekatnya adalah seorang perencana, organisator, pemimpin dan seorang pengendali (Wahjosumidjo 2002:96).
Dengan demikian posisi kepala madrasah adalah selaku manajer, menjadi suatu keharusan baginya untuk mengupayakan pelaksanaan dan aplikasi fungsi-fungsi manajemen di madrasah sebagai lembaga formal dalam upaya mengoptimalkan kegiatan penyelenggaraan pendidikan di madrasah. Dengan demikian kegiatan tersebut dapat berjalan secara berprogram dan terarah