A. JENIS-JENIS
ANALISIS SWOT
1. Model
Kuantitatif
Sebuah
asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W,
serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam
setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap
kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti
setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness
(W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu
Threath (T).
Kemudian setelah masing-masing
komponen dirumuskan dan dipasangkan, langkah selanjutnya adalah melakukan
proses penilaian. Penilaian dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing
-masing subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan subkomponen
yang lain dalam komponen yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen
yang lebih menentukan dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih
besar. Standar penilaian dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk
mengurangi kadar subyektifitas penilaian.
2.
Model Kualitatif
Urutan
dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan
model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan
subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap
subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki
pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi.
Selain itu, Subkomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri
bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif
tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya,
Subkomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah.
Sebagai
alat analisa, analisis SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta.Ketika
telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak
menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan
yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna
jika tujuan telah ditetapkan.
1.
Visi
Langkah
awal dalam perumusan strategi (Strategy Formulation) adalah penetapan visi.
Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistic dan ingin
diwujudkan dalam kurun waktu tertentu . Visi harus dapat memberi kepekaan yang
kuat tentang area focus bisnis. Bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan
sarana untuk:
1.
Mengkomunikasikan
alas an keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.
2.
Memperlihatkan
framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia
organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).
3.
Menyatakan
sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.
4.
Pernyataan visi
perlu diekspresikan dengan baik agar mampu menjadi tema yang mempersatukan
semua unit dalam organisasi, menjadi media komunikasi dan motivasi semua pihak,
serta sebagai sumber kreativitas dan inovasi organisasi. Kriteria-kriteria pembuatan visi meliputi:
5.
Visi bukanlah
fakta, tetapi gambaran pandangan idial masa depan yang ingin diwujudkan.
6.
Visi dapat
memberikan arahan mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang
baik.
7.
Dapat
menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan.
8.
Gambaran yang
realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik.
9.
Sifatnya tidak
statis dan tidak untuk selamanya.
10. Suatu
visi akan menjadi realistik, dapat dipercaya, menyakinkan, serta mengandung
daya tarik, maka dalam proses pembuatannya perlu melibatkan semua stakeholders.
Selain keterlibatan semua pihak, visi perlu secara intensif dikomunikasikan
kesemua anggota organisasi sehingga mereka merasa sebagai pemilik visi
tersebut. Selain itu visi dibuat dalam kalimat yang singkat agar mudah diingat
dan dijadikan komitmen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar