Minggu, 25 Mei 2014

Pengambilan keputusan



  1. HAKEKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Sepanjang hidupnya manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan atau alternatif dan pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice[1], yang menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusia melakukan atau membuat pilihan-pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan-pilihan tersebut biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah yakni upaya untuk menutup terjadinya kesenjangan antara keadaan saat ini dan keadaan yang diinginkan.
Pengambilan keputusan adalah[2] akhir proses panjang tentang identifikasi masalah, penetapan peersyaratan pemecahan masalah, identifikasi alternative dan penilaian strategi penyelesaian masalah. Begitu pula Baron, menyatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternative.
Matlin menyatakan bahwa situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu pengambilan keputusan. Setelah seseorang berada dalam situasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan untuk mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadap alternatif yang ada.
Dalam tahap ini reaksi individu yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Ada individu yang dapat segera menentukan sikap terhadap pertimbangan yang telah dilakukan, namun ada juga individu lain yang tampaknya mengalami kesulitan untuk menentukan sikapnya.
Dalam praktiknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Arroba menyebutkan 5 faktor faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, yaitu: (1) informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4) coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture. Hal senada dikemukakan Siagian bahwa terdapat aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.
Dalam manajemen pendidikan,[3] pengamblan keputusan memegang peranan yang sangat penting karena keputusan yang di ambil oleh seorang kepala sekolah merupakan hasil pemikiran akhir yang harus di laksanakan oleh bawahannya atau mereka yang bersangkutan dengan organisasi yang mereka pimpin. Penting karena menyangkut semua aspek manajemen sekolah. Kesalahan dalam pengambilan keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari kerugian citra sampai kerugian yang bersifat krusial, yaitu pendanaan sekolah.
Sekarang adalah waktunya untuk memilih visi yang dimiliki menjadi bagian yang lebih sempit sehingga mudah untuk di cerna dan diterjemahkan dalam bentuk program yang mudah dijalankan. Visi pastinya penuh dengan inspirasi, namun dapat menjadi kenyataan jika tetap duduk?pasti tidak!visi tersebut harus diubah menjadi kenyataan dan diterjemahkan menjadi suatu cerita.
Tidak ada yang mungkin terjadi tanpa adanya sebuah keputusan. Mengapa harus menunggu hari-hari khusus untuk mengambil keputusan utama dalam hidup. Jadikan setiap hari menjadi hidup yang spesial. Sebab, hari spesial tersebut merupakan kepribadian dari kepemimpinan dalam mengelolah, mengatur, dan memobilisasi bawahan dalam mencapai tujuan pendidikan.
Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kepemimpinan kependidikan dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi kemanusiaan yang dimilikinya, melalui upaya belajar IQ, SQ, EQ, serta berusaha memperbaiki kualitas diri pribadi secara terus-menerus hingga pada akhirnya dapat di peroleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya.
Tugas kemanusiaan kepada sekolah sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai pendidik dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna adalah berusaha membelajarkan peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi kemanusiaan yang dmilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (meaningful Learning) (SQ), menyenagkan (joyfoul Learning) (EQ), dan menantang atau problemisasi (Problematika Learning) (IQ) sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia(SDM) indonesia yang handal. Itu adalah esensi dari pengambilan keputusan kepemimpinan pendidikan.
Sekedar pengetahua organisasi adalah istilah organisasi[4] mempunyai dua pengertian umum. Pertama diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, badan-badan pemerintah dan lain-lainnya. Kedua, merujuk pada sebuah proses pengorganisasian yaitu, bagaiman pekerja di atur dan di alokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi tersebut dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartika sebagai kumpulan dengan sistim kerja sama dengan mencapai tujuan yang bersama. Dalam sistem kerja sama secara jelas diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumber daya dalam tujuan. Karakteristik sistem kerja sama dapat dilihat, antara lain 1. Ada komunikasi 2. Individu dalam organisasi 3. Kerjasam itu di tujukan untuk mencapai tujuan. Menurut Chestar 1. Barnand organisasi mengandung tiga eleman yaitu: kemapuan untuk bekerja sama, tujuan yang ingin di capai, komunikasi.
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja kedalam tugas yang lebih kecil, membebankan tugas itu kepada orang yang sesuai denga kemampuannya, dan mengalokasiakan sumber daya serta mengkoordinasikan dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi.
Menurut pola hubungan kerja,serta lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, maka bentuk-bentuk organisasi itu dapat dibedakan atas:[5]
1.      Bentuk organisasi garis
2.      Bentuk organisasi fungsional
3.      Bentuk organisasi garis dan staf
4.      Bentuk organisasi fungsional dan staf

1.      Bentuk organisasi garis
Oraganisasi garis adalah bentuk organisasi yang paling tua dan sederhana. Penciptanya adalah henry fayol dari prancis. Sering juga disebut organisasi militer, karena digunakan pada zaman dahulu dikalangan militer.
Ciri-ciri bentuk organisasi garis adalah: organisasi masih kecil, karyawan masih sedikit dan saling kenal dan spesialis kerja masih belum begitu tinggi.
2.      Bentuk Organisasi Fungsional
Bermula diciptakan oleh F.W Taylor, dimana segelintir pimpinan tidak memepunyai bawahan yang jelas, sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap bawahan, sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
3.      Bentuk Organisasi Garis dan Staf
Pada umumnya dianut oleh organisasi besar, daerah kerjannya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit, serta jumlah karyawanya banyak. Penciptannta Harrington Emerson. Pada bentuk Organisasi Garis dan Staf, terdapat satu atau lebih tenaga staf. Staf yaitu orang yang ahli dalam bidang tersebut yang tugasnya memberi nasihat dan saran dalam bidangnya kepada pejabat pimpinan didalam organisasi tersebut.
4.      Bentuk Organisasi Staf dan Fungsional
Bentuk Organisasi Staf dan Fubgsional, merupakan kombinasi dari bentuk Organisasi Fungsional dan bentuk Organisasi Faris dan Staf.


Adapun aspek internal tersebut antara lain :
a.      Pengetahuan.
Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan keputusan.
b.      Aspek kepribadian.
Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.
Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain :
c.       Kultur. Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.
d.      Orang lain. Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil keputusan, pada dasarnya dia telah melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya. Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yang tersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan kemampuan individu yang bersangkuran, lingkungan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan fisik dan aspek psikologis.
Seorang pemimpin pendidikan harus mampu menjadi pemecah masalah bagi dirinya dan orang lain. Ini merupakan konsekuensi logis sebagai seorang pemimpin, karena mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus berani mengambil keputusan. Karena posisinya sebagai problem solver, ia harus benar-benar memiliki daya analisis yang tinggi, sehingga keputusan yang diambilnya sudah dipertimbangkan secara matang, yang dapat dilakukan melalui studi kasus, pengamatan, maupun wawancara terfokus.
Pemimpin pendidikan sebagai problem solver dituntut untuk memiliki kreativitas dalam memecahkan masalah dan mengembangkan alternatif penyelesaiannya. Berpikir kreatif untiuk memecahkan masalah dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:[6]
1)      Tahap orientasi masalah, yaitu merumuskan masalah dan mengindentifikasi aspek aspek masalah tersebut. dalam prospeknya,
si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalahyang dipikirkan.
2)      Tahap preparasi. Pikiran harus mendapat sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut. Kemudian informasi itu diproses untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi.
3)      Tahap inkubasi. Ketika pemecahan masalah mengalami kebuntuan maka biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan masalah.
4)      Tahap iluminasi. Proses inkubasi berakhir, karena si pemikir mulai mendapatkan ilham serta serangkaian pengertian (insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah.
5)      Tahap verifikasi, yaitu melakukan pengujian atas pemecahan masalah tersebut, apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus di ulangi lagi.
Dalam hal mengambil keputusan, antar individu yang satu dengan individu yang lain melakukan pendekatan dengan cara yang tidak sama. Setiap orang mempunyai cara unik dalam mengambil keputusan. Jadi ada gaya yang berbeda-beda antar individu yang satu dengan yang lain dalam melakukan pengambilan keputusan. Harren (1980) menyebutkan gaya pengambilan keputusan adalah cara-cara unik yang dilakukan seseorang di dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya.
Gaya pengambilan keputusan bersifat melekat pada kondisi seseorang. Gaya pengambilan keputusan dipelajari dan dibiasakan oleh individu dalam kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta menjadi pola respon saat individu menghadapi situasi pengambilan keputusan. Gaya pengambilan keputusan juga menjadi ciri atau bagian unik dari individu.
Harren, membedakan pengambilan keputusan ke dalam 2 (dua) gaya pengambilan yang berseberangan yaitu gaya rasional dan intuitif. Penggolongan dua gaya ini  didasarkan atas tingkat individu menggunakan strategi pengambilan keputusan yang bersifat emosional.
     Cara individu mengolah dan menanggapi informasi serta melakukan evaluasi dalam situasi pengambilan keputusan.


[1] Eugene j.benge, pokok-pokok manajemen modern, jakarta, pustaka binaman pressindo, 1994, hlm: 5
[2] Syafaruddin, Manajemen lembaga pendidikan islam, jakarta, ciputat pres, 2005, hlm 46
[3] Abd. Wahab, kepemimpinan pendidikan dan kecerdasan spiritual,jakarta, ar-ruzz media,2010
[4] Nanang fattah, Landasan Manjemen Pendidikan, Bandung, PT Remaja Roskarya, 1997
[5] Manullang, Dasar-dasar Manjemen, jakarta,  Ghalia Indonesia, 1992
[6] Syafaruddin, Manajemen lembaga pendidikan islam, jakarta, ciputat pres, 2005, hlm 48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar