- HAKEKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Sepanjang hidupnya manusia selalu dihadapkan
pada pilihan-pilihan atau alternatif dan pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice[1],
yang menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusia melakukan atau membuat
pilihan-pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan-pilihan tersebut
biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah yakni upaya untuk menutup terjadinya
kesenjangan antara keadaan saat ini dan keadaan yang diinginkan.
Pengambilan keputusan adalah[2]
akhir proses panjang tentang identifikasi masalah, penetapan peersyaratan
pemecahan masalah, identifikasi alternative dan penilaian strategi penyelesaian
masalah. Begitu pula Baron, menyatakan
bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternative.
Matlin menyatakan
bahwa situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi
keberhasilan suatu pengambilan keputusan. Setelah seseorang berada dalam
situasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan
untuk mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan
pilihan terhadap alternatif yang ada.
Dalam tahap ini reaksi individu yang satu
dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Ada
individu yang dapat segera menentukan sikap terhadap pertimbangan yang telah
dilakukan, namun ada juga individu lain yang tampaknya mengalami kesulitan
untuk menentukan sikapnya.
Dalam praktiknya terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Arroba menyebutkan 5 faktor faktor yang mempengaruhi
proses pengambilan keputusan, yaitu: (1) informasi yang diketahui perihal
permasalahan yang dihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4)
coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan
permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture. Hal senada dikemukakan Siagian bahwa terdapat aspek-aspek tertentu bersifat
internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.
Dalam manajemen pendidikan,[3] pengamblan keputusan memegang peranan yang sangat
penting karena keputusan yang di ambil oleh seorang kepala sekolah merupakan
hasil pemikiran akhir yang harus di laksanakan oleh bawahannya atau mereka yang
bersangkutan dengan organisasi yang mereka pimpin. Penting
karena menyangkut semua aspek manajemen sekolah. Kesalahan dalam pengambilan
keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari kerugian citra sampai kerugian
yang bersifat krusial, yaitu pendanaan sekolah.
Sekarang adalah waktunya untuk memilih visi
yang dimiliki menjadi bagian yang lebih sempit sehingga mudah untuk di cerna
dan diterjemahkan dalam bentuk program yang mudah dijalankan. Visi pastinya
penuh dengan inspirasi, namun dapat menjadi kenyataan jika tetap duduk?pasti
tidak!visi tersebut harus diubah menjadi kenyataan dan diterjemahkan menjadi
suatu cerita.
Tidak ada yang mungkin terjadi tanpa adanya
sebuah keputusan. Mengapa harus menunggu hari-hari khusus untuk mengambil
keputusan utama dalam hidup. Jadikan setiap hari menjadi hidup yang spesial.
Sebab, hari spesial tersebut merupakan kepribadian dari kepemimpinan dalam
mengelolah, mengatur, dan memobilisasi bawahan dalam mencapai tujuan
pendidikan.
Sebagai pribadi, salah satu tugas besar
kepemimpinan kependidikan dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap
potensi kemanusiaan yang dimilikinya, melalui upaya belajar IQ, SQ, EQ, serta
berusaha memperbaiki kualitas diri pribadi secara terus-menerus hingga pada
akhirnya dapat di peroleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang
sesungguhnya.
Tugas kemanusiaan kepada sekolah sebagai kepala
sekolah sekaligus sebagai pendidik dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang
profesional dan bermakna adalah berusaha membelajarkan peserta didik untuk
dapat mengembangkan segenap potensi kemanusiaan yang dmilikinya, melalui
pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (meaningful Learning) (SQ),
menyenagkan (joyfoul Learning) (EQ), dan menantang atau problemisasi
(Problematika Learning) (IQ) sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas
sumber daya manusia(SDM) indonesia yang handal. Itu adalah esensi dari
pengambilan keputusan kepemimpinan pendidikan.
Sekedar pengetahua organisasi adalah istilah
organisasi[4]
mempunyai dua pengertian umum. Pertama diartikan sebagai suatu lembaga atau
kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, badan-badan pemerintah dan
lain-lainnya. Kedua, merujuk pada sebuah proses pengorganisasian yaitu,
bagaiman pekerja di atur dan di alokasikan diantara para anggota, sehingga
tujuan organisasi tersebut dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi
itu sendiri diartika sebagai kumpulan dengan sistim kerja sama dengan mencapai
tujuan yang bersama. Dalam sistem kerja sama secara jelas diatur siapa
menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan
memfokuskan sumber daya dalam tujuan. Karakteristik sistem kerja sama dapat
dilihat, antara lain 1. Ada komunikasi 2. Individu dalam organisasi 3. Kerjasam
itu di tujukan untuk mencapai tujuan. Menurut Chestar 1. Barnand organisasi mengandung
tiga eleman yaitu: kemapuan untuk bekerja sama, tujuan yang ingin di capai,
komunikasi.
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja kedalam
tugas yang lebih kecil, membebankan tugas itu kepada orang yang sesuai denga
kemampuannya, dan mengalokasiakan sumber daya serta mengkoordinasikan dalam
rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi.
Menurut pola hubungan kerja,serta lalu lintas
wewenang dan tanggung jawab, maka bentuk-bentuk organisasi itu dapat dibedakan
atas:[5]
1.
Bentuk organisasi garis
2.
Bentuk organisasi fungsional
3.
Bentuk organisasi garis dan staf
4.
Bentuk organisasi fungsional dan staf
1.
Bentuk organisasi garis
Oraganisasi garis adalah bentuk organisasi yang
paling tua dan sederhana. Penciptanya adalah henry fayol dari prancis. Sering
juga disebut organisasi militer, karena digunakan pada zaman dahulu dikalangan
militer.
Ciri-ciri
bentuk organisasi garis adalah: organisasi masih kecil, karyawan masih sedikit
dan saling kenal dan spesialis kerja masih belum begitu tinggi.
2.
Bentuk Organisasi Fungsional
Bermula diciptakan oleh F.W Taylor, dimana
segelintir pimpinan tidak memepunyai bawahan yang jelas, sebab setiap atasan
berwenang memberi komando kepada setiap bawahan, sepanjang ada hubungannya
dengan fungsi atasan tersebut.
3.
Bentuk Organisasi Garis dan Staf
Pada umumnya dianut oleh organisasi besar,
daerah kerjannya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam
serta rumit, serta jumlah karyawanya banyak. Penciptannta Harrington Emerson.
Pada bentuk Organisasi Garis dan Staf, terdapat satu atau lebih tenaga staf.
Staf yaitu orang yang ahli dalam bidang tersebut yang tugasnya memberi nasihat
dan saran dalam bidangnya kepada pejabat pimpinan didalam organisasi tersebut.
4.
Bentuk Organisasi Staf dan Fungsional
Bentuk Organisasi Staf dan Fubgsional,
merupakan kombinasi dari bentuk Organisasi Fungsional dan bentuk Organisasi
Faris dan Staf.
Adapun aspek internal tersebut antara lain :
a.
Pengetahuan.
Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara
langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.
Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan
keputusan.
b.
Aspek kepribadian.
Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata
tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.
Sementara aspek eksternal dalam pengambilan
keputusan, antara lain :
c.
Kultur. Kultur
yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini
berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.
d.
Orang lain. Orang
lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh atau cara
orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan keputusan.
Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan pada gilirannya
juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil
keputusan, pada dasarnya dia telah
melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya.
Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau
pilihan yang tersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan
kemampuan individu yang bersangkuran, lingkungan sosial, ekonomi, budaya,
lingkungan fisik dan aspek psikologis.
Seorang pemimpin pendidikan harus mampu menjadi
pemecah masalah bagi dirinya dan orang lain. Ini merupakan konsekuensi logis
sebagai seorang pemimpin, karena mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus
berani mengambil keputusan. Karena posisinya sebagai problem solver, ia harus
benar-benar memiliki daya analisis yang tinggi, sehingga keputusan yang
diambilnya sudah dipertimbangkan secara matang, yang dapat dilakukan melalui
studi kasus, pengamatan, maupun wawancara terfokus.
Pemimpin pendidikan sebagai problem solver
dituntut untuk memiliki kreativitas dalam memecahkan masalah dan mengembangkan
alternatif penyelesaiannya. Berpikir kreatif untiuk memecahkan masalah dapat
dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:[6]
1)
Tahap orientasi masalah, yaitu merumuskan
masalah dan mengindentifikasi aspek aspek masalah tersebut. dalam prospeknya,
si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang
berkaitan dengan masalahyang dipikirkan.
2)
Tahap preparasi. Pikiran harus mendapat
sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut. Kemudian
informasi itu diproses untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap
orientasi.
3)
Tahap inkubasi. Ketika pemecahan masalah
mengalami kebuntuan maka biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu
pikiran bawah sadar kita akan bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan
masalah.
4)
Tahap iluminasi. Proses inkubasi berakhir,
karena si pemikir mulai mendapatkan ilham serta serangkaian pengertian
(insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah.
5)
Tahap verifikasi, yaitu melakukan pengujian
atas pemecahan masalah tersebut, apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus
di ulangi lagi.
Dalam hal mengambil keputusan, antar individu
yang satu dengan individu yang lain melakukan pendekatan dengan cara yang tidak
sama. Setiap orang mempunyai cara unik dalam mengambil keputusan. Jadi ada gaya
yang berbeda-beda antar individu yang satu dengan yang lain dalam melakukan
pengambilan keputusan. Harren (1980) menyebutkan gaya pengambilan keputusan
adalah cara-cara unik yang dilakukan seseorang di dalam membuat
keputusan-keputusan penting dalam hidupnya.
Gaya pengambilan keputusan bersifat melekat
pada kondisi seseorang. Gaya pengambilan keputusan dipelajari dan dibiasakan
oleh individu dalam kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta
menjadi pola respon saat individu menghadapi situasi pengambilan keputusan.
Gaya pengambilan keputusan juga menjadi ciri atau bagian unik dari individu.
Harren, membedakan pengambilan keputusan ke dalam 2
(dua) gaya pengambilan yang berseberangan yaitu gaya rasional dan intuitif.
Penggolongan dua gaya ini didasarkan atas tingkat individu
menggunakan strategi pengambilan keputusan yang bersifat emosional.
Cara
individu mengolah dan menanggapi informasi serta melakukan evaluasi dalam
situasi pengambilan keputusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar